Rudy menegaskan, dipilihnya Desa Malasari sebagai lokasi peringatan HJB bukan tanpa alasan. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki nilai historis sebagai titik awal berdirinya Bogor.

“Tujuan kami merayakan Hari Jadi Bogor ke-544 tahun di Desa Malasari, ini adalah titik awal Bogor berdiri. Ini adalah titik awal adanya Kabupaten Bogor, adanya Kota Bogor, adanya Kota Depok,” tegasnya.

Ia menjelaskan, bupati pertama Bogor, Raden Ipik Gandamana, pernah berkantor di Desa Malasari sekaligus menjadi pelaksana tugas Bupati Lebak pada masa itu.

Selain kaya sejarah, Rudy juga menyoroti besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki kawasan Malasari dan sekitarnya. Mulai dari kandungan emas, sumber panas bumi, hingga kawasan hijau Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang masih terjaga keasriannya.

Baca Juga: Gerakan Pangan Murah Ramaikan HJB ke-544 Jadi Buruan Emak-emak, Semua Dijual Jauh di Bawah Harga Pasar

Namun di balik kekayaan alam tersebut, Rudy menilai masih terjadi ketimpangan pembangunan yang harus segera menjadi perhatian bersama.

“Kenapa wilayah yang kaya, infrastruktur kesehatannya paling tertinggal? Kenapa wilayah yang kaya, infrastruktur jalan dan lingkungan lainnya yang paling tertinggal?” kata Rudy.

Ia mencontohkan masih adanya sekolah SMP dan SMA yang berada dalam satu atap di wilayah tersebut. Kondisi itu dinilai menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan.

Menurut Rudy, momentum Hari Jadi Bogor ke-544 harus menjadi ajang refleksi bersama untuk melanjutkan perjuangan membangun Kabupaten Bogor yang memiliki 40 kecamatan, 416 desa, 19 kelurahan, dengan jumlah penduduk lebih dari 6 juta jiwa.