BOGOR, CEKLISSATU.COM- Tumpukan sampah yang mengapung di Situ Citata, Kabupaten Bogor, dikeluhkan warga dan pelaku usaha di sekitar lokasi. Selain mengganggu pemandangan, sampah tersebut menimbulkan bau menyengat yang disebut tercium hingga ke warung kopi yang baru beroperasi di sekitar situ.
Keluhan itu disampaikan Nur Kamila (24), pemilik Warkop Bang Jab. Ia mengatakan usahanya baru berjalan sekitar dua hari, namun persoalan sampah di Situ Citata sudah terlihat sejak dirinya mulai membangun tempat usaha pada awal Agustus 2026.
"Kalau dibilang terganggu, terganggu banget. Orang yang mau ke sini kadang 'enggak jadi' karena bau," ujar Nur Kamila.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Berikan Perlindungan Bagi Pemilah 4.000 Pekerja Sampah
Menurutnya, aroma tidak sedap bahkan sampai tercium ke dalam area warung. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena usaha yang dijalankannya menyediakan makanan dan minuman.
"Bayangin aku jualan makanan, aromanya sampai sini," katanya.
Nur berharap tumpukan sampah tersebut segera ditangani. Ia juga mengaku heran karena lokasi situ berada tidak jauh dari kantor kelurahan dan kecamatan.
"Harapannya semoga sesegera mungkin bisa ditindaklanjuti soal sampah di situ. Dibersihkan secepatnya karena sangat-sangat terganggu," ucapnya.
Sementara itu, Petugas Situ Citata, Haji Yusuf, menjelaskan persoalan sampah di situ tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Menurutnya, aliran air dari Situ Kedung dan Situ Cibutun masuk ke Situ Citata melalui inlet dan turut membawa sampah.
Ia mengatakan petugas bersama masyarakat dan kelompok pengawas telah berupaya mengangkat sampah yang masuk ke situ. Namun, penanganan belum bisa dilakukan secara rutin karena keterbatasan tenaga dan cakupan wilayah kerja.
"Untuk yang masuk di situ, yang kami perbuat kita angkat ke atas," kata Yusuf.
Pengangkatan sampah selama ini dilakukan menggunakan peralatan sederhana seperti serokan ikan dan bambu.
Yusuf menyebut petugas tidak dapat membersihkan Situ Citata setiap hari. Sebab, terdapat sekitar 60 situ di Kabupaten Bogor yang juga membutuhkan penanganan.
"Kalau tempat saya kerja itu cuma tiga bulan, kadang-kadang dua bulan. Karena 60 situ se-Kabupaten Bogor," ujarnya.
Baca Juga: Tumpukan Sampah Kabupaten Bogor Punya Masa Depan Baru, Bakal Diolah Menjadi BBM dan Energi Listrik
Karena itu, ia berharap ada kolaborasi dengan pemerintah daerah, khususnya pihak yang menangani sumber daya air dan kebersihan lingkungan.
Yusuf mengungkapkan banyaknya sampah yang berada di Situ Citata cukup signifikan. Dalam tiga hari pekerjaan pengangkatan sampah, petugas bahkan berhasil mengumpulkan sampah lebih dari satu truk.
Menurutnya, sampah tersebut sebagian besar mengapung dan berpindah mengikuti arah angin. Kondisi kemarau membuat sampah lebih mudah terkonsentrasi di bagian tertentu situ.
"Ini hasil tiga hari kerja itu saja lebih dari satu truk," ungkapnya.
Petugas juga tidak sembarangan membakar sampah yang telah diangkat. Kondisi musim kemarau dinilai meningkatkan risiko kebakaran apabila sampah dibakar.
Salah satu solusi yang telah diusulkan petugas adalah pemasangan jaring atau saringan sampah di jalur masuk air ke Situ Citata.
Yusuf mengatakan usulan tersebut sudah diajukan kepada pihak kelurahan dan kecamatan sejak beberapa bulan lalu. Namun, hingga kini belum terealisasi.
"Sudah mengajukan baik ke Kelurahan, Kecamatan untuk diadakan jaring sampah, tapi belum terealisasi," katanya.
Menurut Yusuf, pemasangan jaring saja belum cukup. Harus ada pihak yang bertanggung jawab mengangkat sampah yang tertahan dan mengelolanya secara rutin.
"Siapa yang akan bertanggung jawab mengangkat sampahnya. Itu ada orang khusus yang harus dipekerjakan, diberdayakan. Itu kendalanya," jelasnya.
Yusuf juga menyoroti perilaku sebagian pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan di sekitar situ.
Ia mengatakan sejumlah area bahkan telah dipagari untuk mencegah pengunjung nongkrong dan membuang sampah langsung ke badan air. Warga sekitar juga telah memasang imbauan agar pengunjung membawa kembali sampah makanan dan minuman yang mereka bawa.
Namun, menurutnya, imbauan tersebut belum sepenuhnya dipatuhi.
"Jajan boleh masuk setu, bawa jajanan, silakan bawa kembali sampahnya. Enggak, ditinggalin," ujarnya.
Sekretaris Kelurahan, Leni Nerlina, mengatakan persoalan sampah menjadi salah satu topik yang dibahas dalam rapat koordinasi di tingkat kecamatan.
Ia menilai penanganan sampah di Situ Citata tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas situ. Diperlukan koordinasi antara kelurahan, kecamatan, dinas terkait, serta masyarakat.
"Kalau kita mau bicara sampah, tadi juga kebetulan lagi rakor di kecamatan. Topik yang dibahas itu adalah sampah," kata Leni.
Leni juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan karena saat ini kondisi masih kering. Api yang muncul dari pembakaran sampah dikhawatirkan merembet akibat tiupan angin.
Terkait bau, ia membenarkan bahwa kondisi di sekitar situ memang dapat menimbulkan aroma tidak sedap, terutama ketika musim kemarau.
"Memang bau memang di situ," ujarnya.
Kesadaran Warga Jadi Sorotan
Leni menilai persoalan sampah juga tidak terlepas dari kesadaran masyarakat. Menurutnya, pemerintah memang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan, tetapi warga juga perlu ikut menjaga kebersihan.
"Balik lagi ke hati nurani masing-masing. Mau bersih enggak nih lingkungan," tuturnya.
Ia berharap usulan pemasangan jaring sampah dapat segera dibahas bersama, sekaligus diikuti dengan pembahasan mengenai tenaga dan anggaran untuk pemeliharaannya.
Comment