Forum ini turut menghadirkan jejaring komunitas ICCN dari wilayah sekitar, di antaranya Sanggar Kamulyan Sindureja Banyumas serta perwakilan Cilacap Kreatif. Banyumas dan Cilacap menjadi dua kabupaten kreatif yang saling melengkapi, Banyumas dengan kekuatan seni pertunjukan, dan Cilacap sebagai Kabupaten Kreatif subsektor Film, Animasi, dan Video (FAV). 


Pertemuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas wilayah dalam membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan.


Ratusan anggota komunitas kreatif dari Banyumas hadir dalam kegiatan ini, mewakili 17 subsektor ekonomi kreatif. Selain komunitas seni dan sanggar, acara ini juga menghadirkan tenant dari Peken Banyumasan, sebuah pasar artisan berbasis komunitas yang tumbuh secara organik di Banyumas dan sekitarnya. Beberapa tenant yang terlibat antara lain TemuWan (minuman rempah), Dug Press, Galaksi Gesang, Tresna Studio, dan Arkakala, yang merepresentasikan keragaman produk kreatif dengan narasi lokal dan nilai artisan yang kuat.


Dalam dialognya, Raffi Ahmad menegaskan bahwa kegiatan “UKP Mendengar” dirancang sebagai ruang untuk menyerap aspirasi langsung, bukan sekadar kunjungan simbolik. Ia menekankan pentingnya memperkuat ekosistem, bukan hanya menggelar event. 

Baca Juga: ICCN Kukuhkan Kepengurusan 2025-2028: "The Guardian" Ekosistem Kota dan Kabupaten Kreatif Indonesia


"Negara perlu hadir untuk memastikan adanya ruang produksi, jalur pengembangan talenta, akses pasar, serta apresiasi yang berkelanjutan bagi pekerja seni dan pelaku kreatif," katanya. 


Dalam kesempatan yang sama, Exco ICCN Dimas Herdy Utomo menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan ekonomi kreatif daerah, khususnya peran komite ekraf sebagai simpul kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, akademisi, dan jejaring nasional seperti ICCN.  


"Tantangan utama di daerah bukan pada kurangnya kreativitas, melainkan pada sinkronisasi kebijakan, akses pembiayaan, dan kesinambungan program agar tidak bergantung pada figur atau momentum tertentu," jelasnya.