Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H mengangkat tema tentang pentingnya membangun Sense of Obedience atau kesadaran taat yang bersumber dari nilai-nilai tauhid. Ia menekankan bahwa ketaatan sejati bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan kesadaran penuh bahwa Allah Maha Mengetahui, dan setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi.
“Kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas dosa kita. Jika tersesat, itu karena kita lalai, bukan karena takdir,” ujarnya.
Baca Juga: IKA FEB UNIDA Gelar Halal Bihalal, Dorong Alumni Lebih Aktif dalam Organisasi
Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menggambarkan ketaatan seperti pohon, yakni berakar pada ketuhanan, bertumpu pada Rasul, dan bercabang pada pemimpin yang adil. Namun ia menegaskan, ketaatan kepada pemimpin tidak boleh buta.
“Ingat, Rasulullah bersabda, siapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan, lisan, atau hati. Diam itu dosa. Ketaatan pada Allah harus lebih besar dari takut pada atasan,” tukasnya.