BOGOR, CEKLISSATU.COM - Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Herry Karnadi, mengapresiasi langkah SD Rimba Putra yang berlokasi di Jalan Rimba Mulya 1 Pasir Mulya Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor yang telah menginisiasi kegiatan edukasi tentang bahaya perundungan dengan mengundang Wakil Wali Kota Bogor, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Disdik Kota Bogor.
Menurut Herry, upaya tersebut penting dilakukan sebagai langkah pencegahan sejak dini, meskipun kasus perundungan di Kota Bogor saat ini sudah mulai berkurang.
“Memang kasus perundungan di Bogor sudah mulai berkurang, walaupun tidak dipungkiri masih ada di beberapa satuan pendidikan. Hanya tidak sampai besar dan skalanya kecil,” ujar Herry. di lokasi kegiatan, Selasa, (12/1/2026)
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Seluruh Indonesia
Ia menjelaskan bahwa perundungan yang masih terjadi umumnya berskala ringan dan dapat ditangani langsung di tingkat sekolah. Namun demikian, perhatian khusus perlu diberikan tidak hanya pada perundungan antarsiswa, tetapi juga potensi perundungan yang dilakukan oleh tenaga pendidik.
“Yang perlu diperhatikan adalah selain perundungan antara siswa, juga perundungan yang dilakukan oleh para guru. Itu sangat dicegah sama sekali. Jarang sekali terjadi di Kota Bogor, karena dampaknya akan jauh lebih dalam kepada siswa apabila guru yang melakukan perundungan,” tegasnya.
Herry menilai, guru seharusnya menjadi teladan bagi siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Jika perundungan justru dilakukan oleh guru, maka hal tersebut dapat memberikan contoh yang tidak baik bagi peserta didik.
“Guru itu orang dewasa dan teladan. Itu menjadi tidak baik ketika dilihat langsung oleh siswanya, apalagi dilakukan oleh guru yang notabenenya mengajarkan berbagai macam nilai, baik di kelas maupun di luar sekolah,” jelasnya.
Selama menjabat di Disdik Kota Bogor, Herry mengaku hanya menerima laporan satu hingga dua kasus perundungan. Namun kasus tersebut pun dapat diselesaikan di tingkat sekolah tanpa harus berlanjut ke proses lebih jauh.
“Kalau saya selama di Disdik, hanya satu sampai dua kasus yang muncul sampai ke telinga saya. Itu pun sudah diselesaikan di tingkat sekolah, tidak sampai berlanjut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, untuk kasus saling mengejek antarsiswa, masih kerap terjadi dalam konteks bercanda, meski terkadang dapat menyinggung perasaan.
“Kalau anak-anak saling mengejek, mungkin masih ada unsur bercanda, tapi bisa sedikit menyinggung. Namun sejauh yang saya dengar, hanya satu sampai dua kasus dan semuanya sudah ditangani,” pungkas Herry.
Sementara itu Kepala Sekolah SD Rimba Putra
Widi Prihayana mengatakan kegiatan sosialisasi Anti Bulying sangat bermanfaat bagi seluruh siswa-siswinya.
"Ini sangat bermanfaat sekali, jadi dengan adanya sosialisasi ini mudah-mudahan akan lebih menambah kondisi belajar lebih tentram dan aman di sekolah kami," ujarnya.
Widi juga berharap dapat menggelar kegiatan serupa yang di khususkan bagi siswa-siswi yang saat ini duduk dibangku kelas 6.
"Mudah-mudahan nanti akan ada lanjutannya, nanti mungkin acara khusus juga sosialisasi khusus kelas 6 mungkin supaya saat peralihan dari SD ke SMP itu mereka bisa siap-siap mengantisipasi di SMPnya nanti," harapnya.