BOGOR, CEKLISSATU - Taman Safari Indonesia Bogor bekerja sama dengan Balai Baca Cijayanti (BBC) menggelar program edukasi konservasi satwa langka.
Edukasi konservasi itu menjadi langkah nyata dalam membangun kecintaan generasi muda terhadap konservasi alam.
Edukasi konservasi itu bertujuan meningkatkan kesadaran anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan satwa liar, khususnya kodok merah.
Baca Juga: Kebun Raya Bogor Ajak Masyarakat Berdonasi Lewat Event Lari di Kebun
Kodok merah, spesies amfibi endemik yang hidup di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, kini menghadapi ancaman serius akibat penurunan populasi.
Melalui program edukasi konservasi tersebut, anak-anak diajak mengenal lebih dekat kodok merah, peran pentingnya dalam ekosistem, serta ancaman yang membuat populasinya kian berkurang.
Manajer Edukasi Taman Safari Indonesia Bogor Rina Raja Guguk mengatakan, bahwa edukasi konservasi sejak dini sangat penting untuk menanamkan kesadaran tentang pelestarian satwa.
Baca Juga: Ragil, Si Elang Jawa Penguasa Baru Langit Gunung Halimun Salak
"Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjaga keseimbangan ekosistem bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi juga kita semua, termasuk mereka," ujarnya, Selasa 25 Februari 2025.
Selama program berlangsung, antusiasme anak-anak terlihat jelas. Mereka aktif bertanya dan mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat.
"Ini pertama kalinya kami mengadakan edukasi di sini, dan respons anak-anak luar biasa. Kami menyesuaikan metode pembelajaran agar sesuai dengan usia mereka, dan hasilnya sangat positif," tambah Rina.
Baca Juga: Kenalkan Konservasi Lewat Konser Musik, Kebun Raya Kembali Hadirkan Sunset di Kebun
Sementara itu salah satu perwakilan BBC Dwi menambahkan, pentingnya peran literasi dalam membentuk pola pikir anak-anak terhadap lingkungan.
"Guru memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi, tidak hanya dalam hal membaca dan menulis, tetapi juga dalam membangun pemahaman yang lebih luas, termasuk tentang konservasi alam," ujarnya.
Dwi berharap kolaborasi itu dapat terus berlanjut dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa depan.
Baca Juga: Menyuarakan Konservasi Alam Melalui Pertunjukan Musik dengan Latar Kebun Raya
"Kami ingin literasi tidak hanya menjadi soal akademik, tapi juga tentang kesadaran lingkungan. Dengan kerja sama seperti edukasi konservasi ini, kita bisa memperluas wawasan anak-anak dan menanamkan nilai-nilai penting tentang pelestarian alam sejak dini," katanya.
Ke depannya, Balai Baca Cijayanti berkomitmen untuk memperluas akses literasi yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan umum, tetapi juga pada isu-isu lingkungan dan konservasi.
"Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar dampak positif yang bisa kita ciptakan," tutup Dwi.