BOGOR, CEKLISSATU— Dinas Pendidikan Kota Bogor terus menggencarkan upaya menekan angka putus sekolah melalui program pendidikan kesetaraan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi mengungkapkan, angka putus sekolah paling banyak terjadi saat transisi dari tingkat SMP menuju SMA.

Menurut Herry, jumlah anak putus sekolah di Kota Bogor saat ini berkisar sekitar 3.000 anak. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 lebih merupakan siswa yang tidak melanjutkan dari SMP ke SMA.

“Yang paling banyak itu dari SMP ke SMA. Jumlahnya sekitar seribuan lebih. Kemudian ada juga dari SD beberapa ratus, dan dari SMA ke perguruan tinggi juga kurang lebih seribuan,” ujar Herry Karnadi disela-sela acara Gebyar PKBM di Kecamatan Bogor Timur, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga: DPRD Kota Bogor Buka Suara soal 10 Ribu Anak Putus Sekolah, PKBM Jadi Harapan

Untuk menekan angka tersebut, Disdik Kota Bogor melakukan strategi jemput bola dengan melibatkan lurah, RT dan RW di seluruh wilayah. Pendataan dilakukan secara langsung untuk mengetahui anak-anak yang putus sekolah secara by name by address.

“Nanti disisir oleh lurah, RT dan RW. Anak-anak yang putus sekolah didata nama dan alamatnya, lalu kita undang ke PKBM atau kantor kelurahan. Bahkan kalau perlu dijemput supaya bisa kembali sekolah,” jelasnya.

Herry menyebut, faktor utama anak putus sekolah masih didominasi persoalan kemiskinan. Banyak anak yang terpaksa bekerja karena keterbatasan ekonomi keluarga, bahkan ada yang tidak mampu membayar ongkos sekolah.