Menurutnya, pengalaman hidup bersama seorang ibu pendidik membuat dirinya memahami betul bahwa di balik setiap keberhasilan seorang murid, terdapat perjalanan panjang seorang guru, perjalanan yang ditopang oleh kesabaran tanpa batas, kegigihan yang tak pernah padam, dan harapan yang terus dijaga meski badai perubahan datang bertubi-tubi.

Ia juga menggambarkan tekanan yang dihadapi para pendidik hari ini yaitu kurikulum yang selalu berubah, tuntutan teknologi yang melaju cepat, serta beban administratif yang tidak ringan. Namun, semangat para guru tetap bertahan karena mereka percaya bahwa masa depan tidak akan pernah terbangun tanpa seseorang yang dengan tulus menuntun.

“Hanya guru yang mampu tersenyum, bahkan ketika hatinya letih.
Hanya guru yang mampu memberi, bahkan ketika dirinya kekurangan.
Mereka bukan sekadar mengajar, mereka mencintai,” tuturnya penuh hormat.

Baca Juga: FKD Sumatera Utara Ajak Dosen FKD Indonesia Produktif, Kreatif, dan Berdaya Saing Untuk Lolos Hibah Dosen 2026

Dalam kesempatan tersebut, Raden Minda Kusumah kembali menegaskan komitmen FKD Indonesia untuk memperjuangkan kesejahteraan dan martabat pendidik. Namun, ia menekankan bahwa yang paling dibutuhkan guru hari ini bukan hanya kebijakan, tetapi pengakuan tulus bahwa mereka adalah pilar kemanusiaan bangsa.

Menjelang akhir pesannya, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali menengok masa lalu masing-masing.
“Jika hari ini kita menjadi seseorang, ingatlah selalu yaitu ada seorang guru yang dulu tak pernah berhenti percaya pada diri kita, bahkan saat kita sendiri sulit percaya,” ucapnya.
“Hari Guru bukan sekadar hari untuk mengucap terima kasih, tetapi hari untuk mengenang cinta yang diam-diam menjaga bangsa ini.”

Pernyataan tersebut menjadikan peringatan Hari Guru Nasional 2025 sebagai momen penuh getaran emosional, sebuah undangan untuk menghargai mereka yang selama ini bekerja dalam diam, tetapi hasil pengabdiannya bergema dalam kehidupan setiap anak bangsa.