BOGOR, CEKLISSATU - Minggu pagi di sekitar Tugu Kujang tidak lagi dipenuhi suara klakson dan sorak kemenangan. Setelah konvoi perayaan kemenangan Persib Bandung yang berlangsung pada Sabtu malam (23/5/2026), kawasan tersebut mulai kembali lengang. Namun, di beberapa sudut trotoar dan badan jalan, tersisa gelas plastik, bungkus makanan, botol minuman, hingga kantong sampah yang belum terangkut.

‎
‎Fenomena seperti ini bukan pertama kali terjadi. Keramaian di ruang publik, baik setelah pertandingan olahraga, konser musik, car free day, maupun pesta tahun baru, sering meninggalkan jejak berupa tumpukan sampah. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan di perkotaan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga perilaku masyarakat dalam menggunakan ruang bersama.
‎
‎Data terbaru Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) merekam potret buram ini, di mana 65,45 persen dari total 25,14 juta ton timbulan sampah tahunan belum terkelola dengan baik dan berakhir mencemari ekosistem. Paradoks ini kian nyata karena sistem resmi baru mampu menangani 34,55 persen sampah, sementara sisanya menumpuk di 56,69 persen Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem penimbunan terbuka (open dumping). 

Baca Juga: Agar Pilah Sampah Jadi Budaya, Fahira Idris Minta Pemprov DKI Jakarta Pastikan Tujuh Hal Ini
‎
‎Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan yang dipenuhi aktivitas masyarakat. Dalam situasi keramaian, rasa tanggung jawab individu sering kali melemah. Banyak orang merasa sampah yang mereka tinggalkan nantinya akan dibersihkan oleh petugas kebersihan atau pihak lain.
‎
‎Di sisi lain, meningkatnya aktivitas publik juga beriringan dengan meningkatnya penggunaan produk sekali pakai seperti botol plastik, kantong makanan, dan kemasan minuman. Sampah jenis ini menjadi yang paling sering ditemukan setelah kegiatan massa berlangsung.