BOGOR, CEKLISSATU - Di era serba digital seperti sekarang, media sosial bukan hanya tempat berbagi cerita pribadi, melainkan juga menjadi panggung utama bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya. Namun kenyataannya, masih banyak usaha kecil dan menengah yang belum benar-benar memahami bagaimana memanfaatkan media sosial secara optimal untuk branding dan memeperkenalkan produk ke audiens yang lebih luas. Akibatnya, produk yang sebenarnya berkualitas sering tenggelam di tengah derasnya arus konten digital.
Branding digital bukan sekedar membuat akun di Instagram atau TikTok lalu mengunggah foto produk. Lebih dari itu, branding adalah soal membangun citra, membentuk identitas, dan menciptakan kedekatan emosional dengan konsumen. Banyak pelaku usaha yang masih menganggap media sosial hanya sebatas etalase online, padahal platform ini bisa menjadi ruang interaksi dua arah dengan pelanggan. Dengan kata lain, media sosial bukan hanya soal jualan, tapi juga soal cerita di balik produk.
Menurut Octory, dkk (2025), permasalahan utama yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman akan pentingnya branding dalam konteks digital, keterampilan terbatas dalam pemasaran digital, serta minimnya pelatihan dan pendampingan mengenai strategi branding. Tidak semua pelaku usaha memiliki pengetahuan dan keterampilan digital yang memadai. Membuat konten yang konsisten, mengatur visual feeds, memahami algoritma, hingga merancang strategi komunikasi yang tepat sasaran bukanlah hal mudah. Di sisi lain, keterbatasan waktu dan sumber daya juga membuat branding digital sering terabaikan. Bagi Sebagian pelaku usaha, fokus terbesar masih pada produksi dan penjualan, sementara urusan media sosial dianggap nomor sekian.
Padahal, tanpa strategi branding yang jelas, usaha bisa tertinggal dari competitor. Konsumen masa kini cenderung lebih percaya pada produk yang aktif dan transparan di media sosial. Mereka ingin melihat testimoni, proses produksi, hingga cerita autentik dari pemilik usaha. Semua itu menjadi nilai tambah yang membangun kepercayaan.
Menurut saya, branding digital seharusnya bisa dipandang sebagai investasi jangka Panjang, bukan beban tambahan. Pelaku usaha perlu mulai belajar, meskipun sederhana—misalnya dengan membuat konten rutin seminggu sekali, atau sekedar membalas komentar pelanggan. Perlahan tapi pasti, konsisten ini akan membentuk citra positif dan memperkuat posisi usaha di tengah persaingan pasar yang ketat.
Pada akhirnya, branding digital memang tantangan nyata, tapi bukan berarti mustahil ditaklukan. Dengan kemauan belajar, kreativitas, dan dukungan dari berbagai pihak, pelaku usaha bisa menajadikan media sosial sebagai kekuatan utama untuk bertahan sekaligus berkembang di era digital ini.
penulis: Azzah Hamidah
Mahasiswa Prodi Sains Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Djuanda