BOGOR, CEKLISSATU.COM - Bogor selama ini dikenal sebagai “Kota Hujan”, ruang sejuk yang menjadi tempat berlindung dari panas dan polusi wilayah Jabodetabek. Namun dalam beberapa tahun terakhir, citra tersebut mulai memudar.
Warga semakin sering mengeluhkan udara yang pengap, suhu yang menyengat, dan kualitas udara yang menurun. Perubahan ini bukan sekadar anomali cuaca musiman, melainkan tanda adanya krisis lingkungan perkotaan yang nyata.
Yang kini terjadi di Bogor adalah pertemuan berbahaya antara suhu tinggi dan polusi udara. Dalam kajian iklim, fenomena ini dikenal sebagai climate penalty, yaitu kondisi ketika peningkatan suhu justru membuat polutan bertahan lebih lama di atmosfer.
Baca Juga: Dosen FPIK IPB University Ajukan BEDI sebagai Alat Ukur Keberhasilan Blue Economy
Panas tidak hanya menurunkan kenyamanan, tetapi juga menghambat pergerakan udara sehingga polutan seperti partikel halus PM2.5 terjebak di ruang tempat manusia beraktivitas.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat suhu maksimum di Bogor pada akhir 2024 hingga awal 2025 beberapa kali mencapai 35–36 derajat Celsius. Angka ini relatif tinggi bagi kota yang selama ini dikenal sejuk.
Kondisi tersebut diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi, membuat panas terasa lebih ekstrem dan menyulitkan tubuh untuk mendinginkan diri. Dalam situasi seperti ini, polusi udara menjadi jauh lebih berbahaya karena terhirup dalam durasi dan konsentrasi yang lebih lama.
Baca Juga: Kenaikan Harga Kedelai Biji Kering Impor Nasional
Dampaknya terlihat jelas pada sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mendekati 195 ribu kasus sepanjang 2024–2025.
Angka ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan Bogor sedang berada dalam tekanan serius. Kota hujan kini menghadapi risiko kesehatan yang selama ini lebih sering dilekatkan pada kawasan industri di sekitarnya.
Krisis ini tidak terjadi secara merata. Di Kota Bogor, kawasan seperti Tanah Sareal mengalami peningkatan suhu signifikan akibat pesatnya alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun.
Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta dan BMKG Siapkan Langkah Mitigasi Bencana, Diskusikan Operasi Modifikasi Cuaca
Beton dan aspal mendominasi ruang kota, menyerap panas di siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, sehingga suhu sulit turun.
Sementara itu, di wilayah Kabupaten Bogor bagian timur seperti Cileungsi dan Gunung Putri, panas perkotaan bertemu langsung dengan emisi industri dan lalu lintas berat.
Topografi Bogor yang berbukit membuat polutan mudah terperangkap, terutama saat angin melemah.
Baca Juga: Pemkab Bogor Perluas CFD Hingga 16 Kecamatan di Kabupaten Bogor
Kelompok yang paling terdampak adalah mereka yang bekerja di luar ruang. Pengemudi ojek daring, pedagang kaki lima, buruh bangunan, dan pekerja informal lainnya harus tetap beraktivitas di bawah panas dan paparan polusi.
Dalam kondisi panas dan lembap, tubuh secara alami memperlambat kerja untuk mencegah kelelahan. Namun bagi pekerja harian, kondisi ini berarti penurunan pendapatan sekaligus peningkatan risiko kesehatan.
Anak-anak dan lansia juga menjadi kelompok rentan karena sistem pernapasan mereka lebih sensitif terhadap polusi udara.
Baca Juga: Semprot 4.000 Liter Water Mist di Jalan Raya, DLH DKI Jakarta: Jaga Kualitas Udara
Perubahan ini tidak terjadi tanpa sebab. Akar persoalannya terletak pada pembangunan perkotaan yang kurang mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Konversi ruang terbuka hijau, meningkatnya kendaraan bermotor, serta kemacetan di ruas-ruas utama Bogor telah mengubah keseimbangan energi kota.
Panas dan emisi dilepaskan terus-menerus, sementara kemampuan alam untuk menetralisirnya semakin menurun.
Baca Juga: Kurangi Polusi Udara, 107 Kendaraan Uji Emisi Gratis
Hingga kini, respon kebijakan terhadap risiko gabungan panas dan polusi masih terbatas. Regulasi daerah umumnya masih bertumpu pada indikator suhu udara semata, padahal di wilayah tropis seperti Bogor, kombinasi panas dan kelembapanlah yang menentukan tingkat bahaya sebenarnya. Tanpa pemahaman ini, risiko kesehatan masyarakat akan terus diabaikan.
Bogor sedang menghadapi perubahan lingkungan yang tidak bisa lagi dianggap ringan. Sinergi panas dan polusi telah mengubah wajah “Kota Hujan” menjadi ruang yang semakin pengap dan tidak ramah bagi kesehatan.
Jika tidak direspon dengan kebijakan yang lebih peka terhadap risiko iklim perkotaan, Bogor berisiko kehilangan bukan hanya kesejukannya, tetapi juga kualitas hidup warganya.
Oleh: Fithriya Y. Rohmawati
Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University