Di tengah dinamika dunia usaha yang semakin kompleks, muncul sosok inspiratif: Diaz Adiyatnika, entrepreneur berusia 24 tahun di balik kesuksesan dua lini bisnis kreatif kopi et.al dan photobox Photoplace. Ia tidak hanya membangun bisnis dari nol, tetapi juga merancang budaya kerja yang kuat, sistematis, dan kolaboratif sejak usia sangat muda.

Berawal dari sebuah garasi dan modal Rp500.000, Diaz memulai perjalanannya selepas SMA dengan membuka booth sederhana di kantin kampus FEMA IPB pada Januari 2020. Pandemi COVID-19 menjadi titik balik: ia berinovasi cepat dengan meluncurkan kopi botolan bernama Kopi Nobis, yang dijual door-to-door menggunakan pendekatan tak biasa—mengirim DM ke orang asing di media sosial. Bahkan, para baristanya turut berperan sebagai kurir.

Tak hanya menjual kopi, Diaz juga menjadi konsultan bisnis kopi di berbagai daerah seperti Cianjur, Bekasi, Bogor, hingga Malang. Pada Maret 2021, ia melahirkan et.al, disusul peluncuran photobox Photoplace pada Mei 2021—yang kini telah berkembang menjadi 45 outlet di seluruh Indonesia.

“Kenapa photobox? Karena pertumbuhannya lebih cepat, dengan modal kecil dan segmen yang jelas,” ujarnya.

Namun, di balik angka-angka pertumbuhan itu, tersimpan tantangan kepemimpinan yang nyata. Dari hanya empat karyawan, Diaz kini memimpin lebih dari 170 orang. Ia menyadari bahwa sistem adalah fondasi utama. Maka, ia pun mengembangkan workflow, program pelatihan, hingga KPI yang terukur. Bagi Diaz, kesalahan bukanlah sesuatu yang besar selama menjadi ruang untuk belajar.

Struktur organisasi pun dirancang matang. Karyawan dikelompokkan ke dalam klaster kerja—toko, manajemen, event, dan workshop—dengan SOP ketat di outlet serta kegiatan kebersamaan seperti jogging dan sesi bonding bulanan. Lingkungan kerja open-space dipilih untuk mendorong transparansi dan memperkuat rasa saling percaya. Menurut Diaz, tim yang solid terbentuk dari kepercayaan dan proses learning by doing.

“Kita harus tahu dan paham, tapi juga introspektif,” tegasnya soal gaya kepemimpinan.

Ia juga memberi ruang bagi tim untuk mengambil keputusan secara mandiri. Baginya, keselarasan antara nilai individu dan nilai perusahaan adalah kunci agar bisnis dapat berjalan secara autopilot. Kecepatan dan kreativitas bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan perlu disesuaikan dengan peran masing-masing.

Mengambil inspirasi dari tokoh seperti Nadiem Makarim dan Chairul Tanjung, Diaz merefleksikan perjalanannya sendiri dengan tulus:

“Kalau bisa ngobrol dengan Diaz 4 tahun lalu, gue cium dia. Terima kasih karena udah bertahan.”

Dengan target ekspansi Photoplace hingga 65 outlet dalam waktu dekat, serta mimpi untuk go global dan melakukan akuisisi, perjalanan Diaz Adiyatnika baru saja dimulai. Namun semangat kepemimpinan yang ia bangun sejak awal adalah kisah yang pantas untuk diteladani.

Artikel ini ditulis oleh: 

Adlian Fathandesya (K1501242188)
Gilang Ridho Putranta (K1501242208)
Muhammad Hasan (K1501242218)
Rafid Ariz Fadhilah (K1501242207)

Mahasiswa IPB university
Sekolah Bisnis IPB, Magister Management