BOGOR, CEKLISSATU – SSB Sukmajaya Depok kembali menorehkan prestasi membanggakan. Sekolah sepak bola yang telah berdiri hampir tiga dekade itu dipercaya PSSI menjadi ball crew pada laga Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 menghadapi Kamboja dan Vietnam. Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan usia dini yang konsisten mampu membuahkan hasil di level nasional.

Pendiri sekaligus Ketua Umum SSB Sukmajaya, Supartono JW menegaskan penunjukan tersebut bukan karena faktor kedekatan dengan pihak tertentu. Menurutnya, kepercayaan dari PSSI lahir dari rekam jejak panjang SSB Sukmajaya dalam membina talenta muda sepak bola Indonesia.

"Terima kasih kepada PSSI yang sudah mengetahui rekam jejak Sukmajaya selama ini. Kami dipercaya menjadi ball crew karena aktif mengikuti berbagai kompetisi, termasuk Piala Suratin, serta memiliki pembinaan yang serius dan konsisten," katanya.

Baca Juga: 32 SSB Bersaing di Bogor Youth League 2026, Dedie Rachim: Jadi Wadah Pembinaan Calon Bibit Unggul

Awalnya, SSB Sukmajaya hanya mendapat penugasan pada pertandingan Timnas Indonesia melawan Kamboja. Namun, setelah dinilai mampu menjalankan tugas dengan disiplin dan profesional, PSSI kembali menunjuk mereka sebagai ball crew saat laga Indonesia menghadapi Vietnam.

Sumargono berharap kepercayaan tersebut tidak berhenti sampai di situ. Ia optimistis SSB Sukmajaya kembali dipercaya apabila Timnas Indonesia melaju ke semifinal maupun final Piala AFF 2026.

Hampir 29 Tahun Cetak Talenta Sepak Bola

Di balik kepercayaan itu, SSB Sukmajaya memiliki sejarah panjang dalam pembinaan pemain usia dini. Selama hampir 29 tahun, sekolah sepak bola ini telah melahirkan sejumlah pemain nasional dan ribuan alumni yang kini berkarier sebagai ASN, anggota TNI, Polri, pegawai BUMN, hingga pelatih di akademi sepak bola ternama seperti Asiop, Dewa United, Asiana, dan Akademi Persija.

Menariknya, SSB Sukmajaya tidak hanya membina pemain asal Depok. Anak-anak dari Bogor, Bekasi, Tangerang, hingga daerah lainnya juga menjadi bagian dari keluarga besar Sukmajaya. Bahkan, mereka turut membuka kesempatan bagi pemain dari SSB lain yang belum mengikuti kompetisi agar tetap memperoleh wadah pembinaan.

Seleksi Ketat, Mayoritas Berusia 15 Tahun

Untuk bertugas sebagai ball crew, panitia awalnya hanya meminta 14 pemain. Namun, Sumargono mengusulkan tambahan satu pemain cadangan guna mengantisipasi situasi tak terduga selama pertandingan berlangsung.

Sebanyak 15 pemain yang terpilih kemudian menjalani rangkaian pelatihan khusus, mulai dari gladi bersih, simulasi di lapangan, hingga pembekalan sesuai standar penyelenggara Piala AFF. Mereka juga diwajibkan hadir beberapa jam sebelum kick-off untuk mengikuti briefing dan persiapan teknis.

Seleksi dilakukan secara ketat. PSSI memprioritaskan pemain yang aktif mengikuti Piala Suratin dengan batas usia maksimal kelahiran tahun 2009. Dari 15 pemain yang lolos, mayoritas merupakan kelahiran 2011, dua pemain kelahiran 2009, dan satu pemain kelahiran 2012.

Pengalaman Tak Ternilai
Bagi Sumargono, menjadi ball crew bukan sekadar bertugas di pinggir lapangan. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman internasional yang sangat berharga bagi para pemain muda karena dapat menyaksikan atmosfer pertandingan Timnas Indonesia dari jarak dekat.

"Pengalaman seperti ini tidak bisa dinilai dengan uang. Harapannya, mereka semakin termotivasi untuk bekerja keras dan suatu hari nanti bukan lagi menjadi ball crew, tetapi menjadi pemain yang membela Timnas Indonesia," tutupnya.