Oleh: Yusuf Ibrahim | Penikmat Sepak Bola
Dulu, bola hanyalah bola. Terbuat dari kulit, ditendang, lalu masuk gawang atau keluar lapangan. Selesai.
Sekarang tidak lagi.
FIFA merilis. Di Piala Dunia 2026, bola sudah ditanami chip. Ia membawa sensor yang merekam setiap sentuhan hingga 500 kali per detik. Ia tahu siapa yang menyentuhnya, kapan disentuh, sekeras apa disentuh, bahkan bisa menjadi saksi ketika mata manusia mulai ragu.
Ironisnya, semakin pintar bolanya, tetap saja semakin ribut manusianya.
Terlepas dari kontroversi match antara Argentina vs Mesir di Round-16 yang dramatic, usai Argentina menyingkirkan Mesir, dunia tidak membicarakan bagaimana bola bergulir. Dunia lebih sibuk menggulirkan pendapat. Ada yang memuji. Ada yang mencaci. Ada yang menganggap kemenangan itu takdir. Ada pula yang berani menyebutnya "semua sudah diatur" untuk yang memakai jersey biru-putih.
Kalau bola bisa bicara, mungkin ia akan tertawa kecil.
“Kalian ini lucu. Aku yang ditendang, kalian yang sakit hati.”
Sejak ditemukan VAR, garis offside, kamera 360 derajat, sampai chip di dalam tubuhku, kupikir manusia akan semakin mudah menerima kenyataan. Rupanya aku keliru. Teknologi ternyata hanya membantu menemukan fakta. Bukan mengubah prasangka.
Hari ini, aku bahkan bisa bersaksi di ruang VAR. Sedikit sentuhan yang tak terlihat mata, tetap bisa kuberitahukan kepada wasit. Tetapi aku tetap tak mampu memberi tahu manusia bahwa kalah bukan selalu berarti dicurangi, dan menang bukan selalu berarti paling benar. Demikian ulasan bebas New York Post tentang bola zaman sekarang.
Mungkin memang masalahnya bukan lagi pada bola.
Sensor sudah ada di dalam diriku. Yang belum dipasang justru di kepala kita.
Sepak bola akhirnya mengajarkan pelajaran yang lucu. Benda yang tidak punya mulut kini menjadi saksi paling jujur. Sementara makhluk yang diberi akal, lidah, dan media sosial justru paling sulit menerima kenyataan.
Kalau suatu hari bola benar-benar bisa ngomong, saya kira kalimat pertamanya bukan, “Gol.”
Melainkan, “Tolong… kalian yang di-upgrade, jangan aku terus.”
Sebab ternyata, teknologi paling canggih dalam sepak bola bukanlah chip di dalam bola.
Melainkan kemampuan menerima kenyataan ketika hasil pertandingan tidak sesuai isi kepala.
Tabik.