JAKARTA, CEKLISSATU - Selama puluhan tahun, Formula 1 selalu identik dengan glamor, kemewahan, dan dominasi laki-laki. Dari mesin yang menderu hingga para pembalap yang sebagian besar adalah pria, dunia balap jet darat ini seolah menjadi "klub eksklusif" yang sulit dimasuki oleh perempuan. Tapi ambisi perubahan mulai bekerja kencang di sirkuit balap. Data terbaru menunjukkan bahwa 41 persen penonton Formula 1 saat ini adalah perempuan, dan tiga perempat dari penggemar baru yang masuk ke dunia F1 berasal dari kalangan wanita . Ini bukan sekadar angka melainkan bukti bahwa F1 sedang bertransformasi menjadi ajang yang lebih inklusif.
Langkah simbolis pertama dalam transformasi F1 terjadi pada tahun 2018, ketika Liberty Media memutuskan untuk menghentikan praktik "grid girls" sebagai model perempuan yang berjajar di depan para pembalap sebelum balapan dimulai. Keputusan ini menuai kontroversi, tapi Liberty Media bersikukuh bahwa praktik tersebut "bertentangan dengan norma masyarakat modern". Sebagai gantinya, F1 memperkenalkan "grid kids" tersusun dari anak-anak ajang balap junior yang berkesempatan berdiri di samping para pembalap idola mereka. Langkah ini menjadi sinyal awal bahwa F1 serius mengubah narasi tentang peran perempuan dalam olahraga ini, bukan sebagai objek dekorasi melainkan sebagai subjek yang berhak bermimpi menjadi bagian dari lintasan.
Baca Juga: Pembalap Muda Kabupaten Bogor Tembus Moto4 European Cup 2026 di Spanyol
Lompatan terbesar F1 dalam mewujudkan kesetaraan gender adalah didirikannya F1 Academy pada tahun 2023. Hal ini bukan sekadar ajang balap wanita biasa melainkan proyek ambisius yang didanai penuh oleh Formula 1 untuk menciptakan talenta perempuan yang siap bersaing di level tertinggi. Dipimpin oleh Susie Wolff, mantan pembalap pengembangan Williams yang kini menjadi Managing Director F1 Academy, seri balap all-female setingkat F4 ini dirancang untuk menjadi "tangga kredibel" menuju F1. Salah satu indikator paling jelas lainnya bahwa F1 Academy bukan sekadar proyek pencitraan adalah deretan brand global yang berlomba menjadi mitra. Banyak di beberapa moment dukungan kemitraan F1 didominasi oleh sponsorship produk yang identik dengan kewanitaan diantaranya brand ritel shop Sephora dan juga action figure Hello Kitty sebagai kontras feminisme.
Formula 1 memang masih didominasi laki-laki. Tantangan struktural, kultural, dan finansial masih membentang panjang. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa angin perubahan telah bertiup kencang. Dari penghentian grid girls hingga pendirian F1 Academy, dari investasi brand global hingga munculnya harapan dari generasi muda untuk menandakan bahwa F1 sedang bertransformasi. Bukan hanya menjadi ajang yang lebih inklusif, tapi juga menjadi platform yang memberdayakan perempuan untuk bermimpi dan beraksi.
Ade Pramitha
Sumber riset: sports business journal