BOGOR, CEKLISSATU - Warga di dua kampung yakni Jagaita dan Ciledug Desa Jonggol Kecamatan Jonggol merayakan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah dengan menggelar festival perang kuluwung karbit, Minggu (14/4/2024) lalu.
Festival perang kuluwung karbit itu dijadikan kedua kampung sebagai ajang menjaga tali silaturahmi seusai menjalani ibadah puasa Ramadhan
“Persiapan untuk festival kuluwung karbit dilakukan sebelum Ramadhan 1445 Hijriah. Warga mencari batang pohon randu untuk sebagai laras meriam dengan panjang 6 meter. Sulitnya mencari pohon kapuk itu pun mereka dapatkan hingga ke Cianjur dan Sukabumi,” ungkap Herman yang merupakan salah satu panitia pelaksana.
Menurut Herman, Festival Kuluwung Karbit sendiri merupakan tradisi turun temurun dari warga di wilayah timur Kabupaten Bogor yang masih terus terjaga hingga saat ini.
Baca Juga : Hadapi Bali United, Djanur Akui Dalam Situasi Sulit
"ini tradisi lama memeriahkan Lebaran, jadi 2 kampung ini saling berbalas tembakan ada 14 kuluwung karbit, dan bergantian jadi tradisi yang sempat terhenti 5 tahun 2018 an,” terangnya.
Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat setempat yang juga anggota DPRD Kabupaten Bogor Beben Suhendar berharap pemerintah menjadikan tradisi masyarakat Jonggol dan timur kabupaten Bogor sebagai agenda pariwisata daerah.
"Di saat pileg pilpres mereka terbelah, tapi giliran hiburan seperti festival kuluwung mereka bersatu, itu biaya swadaya mereka sendiri mereka bawa kayu randu yang beratnya luar biasa ga main main itu pakai crane, karbit bisa kwintalan belum lagi petasan luar biasa, kalau pemerintah masuk bisa di arahkan bagaimana safety cara bermainnya, keamanannya, edukasinya dan banyak yang bisa dikelola untuk ide kreatif lainnya " tambah Beben.
Meriahnya kegiatan itupun dihadiri warga dari luar daerah seperti Bekasi dan Karawang. Beberapa turis asing dan penggiat media sosial pun ramai mengabadikan keberanian menyalakan meriam karbit dengan menggelegar, memekakan telinga dan dada hingga mengeluarkan api pada moncongnya.
Tradisi perang meriam karbit yang merupakan warisan budaya lokal sejak tahun 1967. Kegiatan serupa juga banyak ditemukan di berbagai pelosok di Jawa Barat akan tetapi sudah semakin berkurang.