BANDUNG, CEKLISSATU - Viral seorang pelajar SMK Kelas sepuluh (X) di Cicalengka, Kabupaten Banndung harus meregang nyawa usai mengalami dugaan kekerasan yang diduga dilakukan ayah kandungnya sendiri dirumahnya di Kampung Dungus Maung, Desa Cikuya pada Senin (19/10/2026).
Ketua RT 02/RW 08, Ujang Saripudin (44) mengatakan, kejadian tragis tersebut terjadi antara pukul 19.00 - 21.00 WIB. Saat itu, Ujang mengaku sedang beristirahat di rumah yang tidak jauh dari lokasi kejadian tersebut.
"Untuk kronologisnya saya kurang tahu detailnya gimana. Saya tahunya juga dari istri saya, kemudian saya cek ke lokasi dan benar sudah banyak warga di sana (rumah korban)," katanya Jumat (23/10/2026).
Saat kejadian tersebut, Ujang menceritakan, RR sebenernya masih bernafas. RR sempat dibawa ke puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Namun sayangnya, RR dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.
"Iya, katanya diduga meninggal dunia oleh bapaknya," katanya.
Kendati demikian, Ujang mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab maupun kronologi kejadian tersebut. Namun, informasi yang beredar di lingkungan warga menyebutkan, peristiwa itu diduga bermula dari persoalan seragam sekolah.
"Kataya gara-gara seragam sekolah. Korban bertanya kepada ibunya, seragamnya belum ada. Kemudian ibunya bertanya kepada bapaknya. Setelah itu mungkin langsung terjadi (peristiwa tersebut). Tapi saya kurang tahu detailnya," katanya.
Di sisi lain, Ujang mengaku terkejut dengan kejadian tersebut. Pasalnya, keluarga RR selama ini tidak pernah adanya laporan mengenai dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebelum kejadian. Di mana, seluruh keluarga tampak normal.
"Kalau laporan ke saya soal KDRT atau bagaimana, dari dulu sampai sebelum kejadian kemarin, tidak ada. Keluarganya biasa saja seperti warga pada umumnya. Berbaur juga dengan warga, tidak ada yang aneh-aneh," ucapnya.
Orang tua korban diketahui sama-sama bekerja. Sang ibu bekerja, sedangkan ayah korban disebut bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Di mata Ujang, Repan juga dikenal sebagai remaja yang bergaul dengan teman-teman seusianya.
"Keluarga korban bisa dibilang sibuk, kedua orang tuanya bekerja. Korban juga baik, sering bermain di sini. Bahkan main juga sama anak saya karena sepantaran. Makanya warga di sini syok dan tidak menyangka apalagi korban juga dikenal baik," ujarnya.