JAKARTA, CEKLISSATU - Melalui gerakan kolektif berbasis masyarakat, warga RW 05 Sunter Agung, Jakarta Utara tidak hanya berhasil mengelola sampah rumah tangga secara mandiri, tetapi juga menyulap limbah menjadi sumber pangan, energi, kesehatan, dan pendapatan.
Keberhasilan warga mengubah limbah jadi sumber pangan dan pendapatan itu menjadi solusi hijau yang menjadi sorotan nasional.
Hal itu juga menarik perhatian Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq yang meninjau langsung kawasan tersebut.
Hanif mengatakan, dia menyaksikan secara langsung bagaimana warga membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, dari rumah ke rumah, dengan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang nyata.
"RW 05 Sunter Agung telah menjalankan sejumlah program yang sangat membantu percepatan pengelolaan sampah di Jakarta Utara. Saya berharap praktik baik seperti ini bisa diperluas dan ditingkatkan intensitasnya," ujarnya dikutip dalam keterangannya, Rabu (2/7/2025).
Salah satu titik unggulan adalah Green House Sunter Muara, ruang hijau yang dibangun dari lahan sempit.
Baca Juga: TPS 3R Katulampa Jadi Role Model Pengelolaan Sampah di Kota Bogor
Warga menyulap tong bekas menjadi kolam lele, botol plastik menjadi pot sayuran, dan gang sempit menjadi kebun pangan.
Di sana tumbuh bayam, ubi, sawi, serta semangat gotong royong dalam urban farming. Seluruh kegiatan terintegrasi dengan program Kampung Iklim (ProKlim).
Limbah dapur warga diolah melalui komposter organik menjadi pupuk yang kembali ke kebun, menciptakan sirkulasi ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Kartini Penggerak Lingkungan dari Sampah Bukit Berlian
Inovasi lain yang menjadi andalan adalah Bank Sampah Sunter Muara (BSSM), tempat di mana sampah berubah menjadi alat tukar. Warga bisa menukarkan sampah dengan:
1. Sedarah – layanan kesehatan gratis (pemeriksaan dan pengobatan),
2.Bang Jali – token listrik untuk rumah tangga rentan energi,
3.Sembako – kebutuhan pokok rumah tangga,
4.ATM-Ku – sistem tabungan berbasis sampah layaknya rekening bank.
Lebih dari sekadar tempat penukaran, BSSM menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan.
Di sana, para ibu rumah tangga dan remaja dibina menjadi kader lingkungan yang menyosialisasikan pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah secara langsung kepada warga lainnya.
RW 05 juga berhasil membangun sistem pemilahan sampah yang solid dari rumah tangga. Kader lingkungan secara rutin memberikan edukasi door-to-door. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot (black soldier fly), sedangkan sampah non-organik disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang.
Hanif menegaskan, model RW 05 Sunter Agung perlu direplikasi ke wilayah lain sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
"Ketika masyarakat diberdayakan, mereka bisa menjadi pelaku utama perubahan. Kita butuh lebih banyak contoh seperti ini di seluruh Indonesia," tutup Hanif.