BOGOR, CEKLISSATU - Ditengah pesatnya perkembangan media sosial, TikTok tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang berbagi informasi dan rekomendasi buku. Fenomena ini dikenal dengan istilah BookTok, yaitu komunitas pengguna TikTok yang aktif membahas berbagai buku melalui ulasan, rekomendasi, hingga pengalaman pribadi setelah membaca.
BookTok mulai menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena dinilai berkontribusi dalam memperkenalkan buku kepada khalayak yang lebih luas, khususnya generasi muda. Melalui video berdurasi singkat, para kreator konten membagikan pendapat mereka mengenai buku yang dibaca, kutipan menarik, maupun alasan sebuah buku layak masuk daftar bacaan.
Popularitas BookTok juga berdampak pada industri penerbitan. Sejumlah buku yang ramai dibahas di platform tersebut mengalami peningkatan penjualan dan kembali masuk dalam daftar buku terlaris. Fenomena ini bahkan mendorong sejumlah toko buku menyediakan rak khusus bertema BookTok untuk memudahkan pembaca menemukan judul yang sedang banyak diperbincangkan.
Baca Juga: Minat Baca Menurun atau Cara Membaca yang Berubah?
Menurut laporan dari TikTok, tagar #BookTok telah digunakan 79,6 juta kali oleh pengguna di berbagai negara dan menjadi salah satu komunitas literasi terbesar di platform tersebut. Konten yang diunggah mencakup berbagai genre, mulai dari novel, pengembangan diri, hingga buku nonfiksi.
Selain memperkenalkan buku baru, BookTok juga menjadi ruang diskusi bagi para pembaca. Kolom komentar sering dimanfaatkan pengguna untuk berbagi pendapat, memberikan rekomendasi bacaan lain, hingga mendiskusikan isi buku yang sedang populer. Interaksi tersebut membuat kegiatan membaca tidak lagi dilakukan secara individual, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas sosial di dunia digital.
Fenomena ini turut memengaruhi kebiasaan membaca generasi muda. Rekomendasi yang disampaikan melalui video singkat dinilai lebih mudah diakses dibandingkan ulasan buku dalam format yang lebih panjang. Kehadiran media sosial juga memungkinkan informasi mengenai buku menyebar dengan cepat kepada calon pembaca.
Sejumlah judul seperti Atomic Habits karya James Clear, The Psychology of Money karya Morgan Housel, hingga The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson termasuk beberapa buku yang kerap muncul dalam rekomendasi komunitas pembaca di media sosial.
Baca Juga: Ajak Orang Tua Bangun Budaya Literasi di Rumah, Yantie Rachim: Dari Kecil Tanamkan Kebiasaan Membaca
Meski demikian, BookTok tidak hanya berisi buku-buku yang sedang viral. Banyak kreator juga memanfaatkan platform tersebut untuk memperkenalkan karya dari penulis yang kurang dikenal, buku klasik, hingga buku dengan tema-tema tertentu yang sesuai minat pembaca.
Kehadiran BookTok menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan buku dengan pembacanya. Di tengah berbagai bentuk hiburan digital yang tersedia saat ini, komunitas tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mendukung budaya membaca di kalangan generasi muda.
Siti Balqis Sari Manah