Program Smart Farming di Jayawangi akan memanfaatkan berbagai peralatan berbasis IoT yang terhubung dengan aplikasi di smartphone serta mengoptimalkan penggunaan peralatan dan teknologi pertanian berbasis listrik. Adapun teknologi yang dimanfaatkan meliputi alat weather station yang berfungsi memantau intensitas hujan, intensitas cahaya, suhu dan kelembaban serta mengukur kecepatan dan arah angin. Selain itu, ada pula teknologi pendeteksi dan pengusir hama melalui sensor suara, serta teknologi irigasi atau pengairan menggunakan metode alternate wetting drying (AWD). Metode AWD akan memungkinkan pengaturan siklus basah dan kering secara bergantian sehingga memungkinkan sawah dialiri hanya saat air didalam tanah mencapai batas tertentu. Metode ini juga dilengkapi dengan sensor ketinggian air yang terhubung pada aplikasi smartphone sehingga memungkinkan petani nuntuk memantau ketinggian air.
Baca Juga: PLN bersana Warga Lakukan Pengukuran Jarak Aman dan Medan Magnet Dibawah Sutet
“Kami sangat antusias dalam menyambut implementasi teknologi pertanian modern berbasis listrik ini. Implementasi ini akan menjadi ilmu dan pengalaman baru untuk para petani. Tentunya besar harapan kami juga terhadap keberhasilan penerapan teknologi pertanian modern ini sehingga apa yang menjadi tujuan dan cita-cita kita bersama, yakni meningkatkan produktvitas pertanian, efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan dapat terwujud” terang Ujang Hamdan, Ketua Kelompok tani Nurul Amal Jayawangi Farm.
Implementasi program TJSL melalui Electrifying Agriculture ini tentunya sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke 8 yakni pilar Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dan tujuan ke 2, pilar tanpa kelaparan.
“Memadukan teknologi pertanian modern dengan electrifying agriculture yang mengoptimalkan penggunaan energi listrik menjadi satu wujud nyata komitmen kami dalam memberikan kontribusi pada masyarakat khususnya yang ada di kawasan ring 1 aset PLN,” pungkas Manager UPT Bogor, Dhany Priatna.