Masih kata Pram dalam sambutannya, membumikan yang melangit dan mengumumkan yang tabu. Karena peluang kerja di luar negeri sampai saat ini masih dianggap suatu hal kurang familiar. Padahal, peluang ini adalah salah satu langkah akselerasi dari segi karir maupun potensi ekonomi individu di antara banyaknya opsi untuk melanjutkan hidup.
“Ini adalah salah satu opsi akselerasi? Mengapa karena, pada awal tahun ini, situasi ekonomi yang tidak menentu dan tren pertumbuhan lapangan kerja yang melambat, menyebabkan berbagai potensi masalah. Diantaranya adalah badai PHK menyelimuti Indonesia bukan hanya sekadar isu, menurut data Kemnaker sebanyak 280.000 orang kehilangan pekerjaan dampak pailitnya beberapa pabrik dan sektor usaha,” katanya.
Baca Juga: Warga Bogor Belum Tau Cara Cek BSU Juni-Juli 2025? Ini Link dan Kriteria Penerimanya
Berdasarkan laporan BPS, Dari total 145,77 juta angkatan kerja yang aktif, mayoritas justeru menggantungkan hidup pada ketidakpastian status kerja. Belum lagi ditambah laporan ILO menunjukkan mismatch pendidikan masih menjadi momok. Di 59 negara, hanya 47,7% pekerja yang pendidikannya sesuai dengan pekerjaannya, dan lebih dari 33,4% masih under-educated.
“Situasi ini semakin pelik ketika melihat bahwa pengangguran di Indonesia justeru lebih banyak berasal dari kalangan terdidik, ada 842 ribu pengangguran bergelar sarjana dan 2,29 juta penganggur lulusan SMA. Ternyata faktanya, pekerjaan informal tumbuh subur tanpa dukungan peningkatan produktivitas dan regulasi yang memadai,” paparnya dengan tegas.