Ahli saraf Fakultas Kedokteran UI, Pukovisa Prawirohardjo, mengatakan partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.
“Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik,” katanya.
Meski penelitian dampak mikroplastik terhadap manusia masih terus berkembang, para ilmuwan mulai menemukan kaitan antara paparan mikroplastik dengan peradangan, gangguan hormon, penyakit kardiovaskular, hingga potensi kanker.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dicermati: sebagian besar studi saat ini masih menunjukkan korelasi, bukan hubungan sebab-akibat langsung. Artinya, mikroplastik memang dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, tetapi para peneliti belum dapat memastikan sejauh mana partikel tersebut menjadi penyebab utama. Faktor lain seperti pola hidup, lingkungan, dan genetik juga berperan.
Baca Juga: Kurangi Sampah Plastik, BRI Menara BRILiaN Ajak Peduli Lingkungan Melalui Mesin Daur Ulang RVM
Karena itu, narasi “semua penyakit disebabkan mikroplastik” masih terlalu jauh jika dilihat dari bukti ilmiah yang tersedia saat ini. Meski begitu, meningkatnya temuan mikroplastik di tubuh manusia membuat banyak peneliti mendorong langkah pencegahan sedini mungkin.
Beberapa langkah sederhana yang disarankan antara lain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih wadah kaca atau stainless untuk makanan dan minuman, menggunakan pakaian berbahan alami, serta menghindari memanaskan makanan dalam wadah plastik.