BOGOR, CEKLISSATU - Selama ini kita terbiasa mengonsumsi berita dari media-media besar seperti koran nasional, televisi swasta, atau portal berita online yang sudah mapan. Mereka dikenal sebagai media arus utama atau nama lainnya adalah mainstream media dimana institusi pers yang telah ini tentunya sudah terverifikasi, memiliki struktur redaksi yang jelas, dan beroperasi dengan kode etik jurnalistik yang baku.
Namun, berdasarkan hasil survey jurnal penelitian komunikasi undip menemukan bahwa kepercayaan publik terhadap media mainstream belakangan ini terus menuru. Laporan Reuters Institute's Digital News Report 2023 menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap media mainstream di Indonesia hanya berada di angka 39 persen, salah satu yang terendah di kawasan Asia Tenggara . Angka ini mencerminkan adanya kerinduan publik akan sumber informasi yang lebih beragam, independen, dan tidak terjebak dalam kepentingan politik atau korporasi besar.
Di sinilah media alternatif mengambil peran. Lahir dari semangat perlawanan terhadap narasi dominan, media alternatif menawarkan perspektif berbeda yang seringkali terpinggirkan oleh pemberitaan arus utama. Mereka hadir dalam berbagai bentuk: dari platform berita digital independen, jurnalisme warga, hingga "homeless media" yang tumbuh subur di media sosial.
Baca Juga: Jangan Asal Unggah, Data Pribadi Ini Bisa Disalahgunakan di Internet
Berikut merupakan beberapa rekomedasi kiblat media arus terpercaya yang bisa dijadikan preferensi:
Project Multatuli
Salah satu media investigasi tereksis saat ini yang lahir untuk menantang narasi-narasi mainstream dan menyoroti isu-isu yang kurang dilaporkan. Dinamai sesuai nama pena penulis Belanda Eduard Douwes Dekker yaitu Multatuli yang terkenal dengan kritiknya terhadap kolonialisme, media ini berkomitmen pada pemberitaan yang berani dan tidak konvensional.
The Jakarta Post
Media berbahasa Inggris tertua dan paling mapan di Indonesia, didirikan pada 1983. Memiliki reputasi untuk pemberitaan profesional yang menyeimbangkan kepentingan nasional dan internasional.
Floresa (Nusa Tenggara Timur)
Berdiri sejak 2014, media independen ini berkomitmen pada jurnalisme publik dengan fokus pada advokasi hak-hak warga rentan, masyarakat adat, isu lingkungan, dan korban kekerasan seksual. Menariknya, Floresa memilih untuk tidak menerima iklan atau kerja sama dari pemerintah daerah demi menjaga independensi editorial.