SERANG, CEKLISSATU — Janji betonisasi jalan yang digaungkan Pemerintah Kota Serang seolah kehilangan makna ketika sebuah lubang besar justru menganga di pusat kota. Bukan di pinggiran, bukan di daerah terluar melainkan tepat di jantung kota, di jalur strategis kawasan Alun-alun.
Lubang itu tergenang air, nyaris tak terlihat, dan siap menjadi jebakan bagi pengendara yang lengah. Ironisnya, lokasi kerusakan berada di depan pusat kekuasaan: tak jauh dari kantor Wali Kota dan DPRD. Sebuah ironi yang terlalu terang untuk diabaikan.
Aktivis perempuan Banten, Nury Sybli, menyebut kondisi ini sebagai potret nyata ketimpangan antara rencana dan pelaksanaan.
“Ini bukan sekadar lubang jalan. Ini simbol dari kelalaian. Kalau di depan kantor pemerintah saja dibiarkan, bagaimana dengan wilayah lain?” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Hingga Lebaran hari ketujuh, lubang tersebut belum juga diperbaiki. Genangan air bahkan semakin memperburuk kondisi, memperbesar risiko kecelakaan di tengah mobilitas warga yang meningkat.
Padahal, Wali Kota Budi Rustandi sebelumnya telah menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum percepatan pembangunan infrastruktur. Betonisasi jalan, revitalisasi Alun-alun, hingga program “Serang Menyala” digadang-gadang menjadi wajah baru kota.
Namun realitas di lapangan menunjukkan cerita berbeda: lubang tetap menganga, perawatan jalan tersendat, dan wajah kota belum juga berubah signifikan.
Kritik juga mengarah pada penataan ruang publik lain, seperti kawasan GOR Maulana Yusuf. Alih-alih menjadi magnet wisata, area kuliner di lokasi tersebut dinilai mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan, dengan fasilitas yang tak terawat dan area parkir yang kumuh.
“Serang ini ibu kota provinsi, bukan kota kecil yang terpinggirkan. Jaraknya dekat dari pusat negara. Tapi wajah kotanya belum mencerminkan itu,” kata Nury.
Perbandingan dengan kota lain seperti Surabaya dan Bandung pun tak terhindarkan—dua kota yang dianggap berhasil menata ruang publik dan infrastruktur secara konsisten. "Kalau Surabaya dan Bandung bisa cantik, kenapa Serang tak mampu?," ujar Nury Sybli.
Di atas kertas, rencana Pemerintah Kota Serang terlihat ambisius: perbaikan penerangan jalan, betonisasi menyeluruh, hingga pembangunan sarana publik. Namun, tanpa eksekusi yang disiplin dan pengawasan yang ketat, rencana itu berisiko menjadi sekadar daftar janji.
Lubang di jantung kota ini, pada akhirnya, bukan hanya soal infrastruktur. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan tak diukur dari apa yang direncanakan, melainkan dari apa yang benar-benar dikerjakan.