BANDUNG, CEKLISSATU.COM - Lonjakan volume sampah selama bulan Ramadan kembali menjadi sorotan serius Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.
Produksi sampah tercatat naik hingga 20 persen, sehingga pemerintah harus bergerak cepat melalui berbagai langkah, mulai dari peningkatan frekuensi pengangkutan hingga pengembangan program berbasis lingkungan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai situasi tersebut tidak bisa dianggap sepele, mengingat kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian terbebani.
“Saya selalu menggaungkan soal sampah, karena selama bulan puasa ini timbulan sampah meningkat sampai 20 persen. Sementara beban di TPA makin berat,” ujarnya dikutip Senin (23/3/2026).
Sebagai solusi jangka menengah, Pemkot Bandung sedang mengintegrasikan program Gaslah dengan program Gober (gorong-gorong bersih).
Dari kolaborasi tersebut akan dikembangkan konsep baru bernama “Gaslah Sungai” yang difokuskan pada penanganan sampah plastik di aliran sungai dan perairan kota.
Baca Juga: Bandung Darurat Sampah, Pemkot Bandung Bertahap Angkut 500 Meter Kubik Sampah di TPS Pasar Ciwastra
“Gaslah fokus pada sampah organik, tapi nanti kita gabungkan dengan Gober. Kita siapkan konsep baru, Gaslah Sungai, fokus ke sampah plastik di aliran sungai,” jelas Farhan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemkot dalam menekan pencemaran lingkungan sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu di Kota Bandung.
Untuk mengantisipasi lonjakan sampah, Pemkot Bandung juga menerapkan langkah cepat dengan meningkatkan intensitas pengangkutan. Selama tiga hari krusial, sampah diangkut setiap tiga jam sekali guna mencegah penumpukan di sejumlah titik.
Meski demikian, upaya ini masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan kapasitas Tempat Penampungan Sementara (TPS) serta distribusi ke TPA Sarimukti yang bergantung pada kuota pembuangan.
Selain langkah pemerintah, Farhan menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mengurangi volume sampah.
Ia mengapresiasi inisiatif warga, termasuk kelompok pengolah sampah plastik di kawasan Cigondewa yang konsisten melakukan pemilahan dan daur ulang.
Tak kalah penting, Pemkot Bandung mendorong pengolahan sampah organik dilakukan langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Warga diimbau untuk memilah sampah sejak dari dapur, khususnya sampah organik, agar tidak seluruhnya berakhir di TPS.
“Sampah organik ini harus selesai di kelurahan. Camat dan lurah wajib memastikan tidak ada penumpukan dan tidak dibuang ke TPS,” tegas Farhan.
Baca Juga: Transisi Pengelolaan Sampah di TPA Galuga, Pemkab Bogor Siapkan Controlled Landfill dan Proyek PSEL
Dengan kombinasi strategi darurat dan inovasi program, Pemkot Bandung berharap persoalan sampah tidak hanya tertangani dalam jangka pendek, tetapi juga bertransformasi menjadi sistem pengelolaan yang berkelanjutan.