Selain vitamin B, kekurangan zat besi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan di sudut bibir atau angular cheilitis. Kondisi ini ditandai dengan bibir yang mudah pecah, nyeri, dan terkadang disertai luka pada sudut mulut.

4. Penggunaan Produk Tertentu

Tidak semua produk perawatan bibir cocok untuk setiap orang. Beberapa kandungan seperti pewangi, mentol, kapur barus (camphor), atau bahan perasa tertentu dapat memicu iritasi pada sebagian individu.

Menurut AAD, reaksi alergi ringan terhadap kosmetik, pasta gigi, atau produk perawatan bibir juga dapat menyebabkan bibir menjadi kering, mengelupas, dan terasa perih.

5. Terlalu Lama Terpapar Sinar Matahari

Paparan sinar ultraviolet (UV) tidak hanya memengaruhi kulit wajah, tetapi juga bibir. Menurut Skin Cancer Foundation, bibir merupakan salah satu area yang rentan mengalami kerusakan akibat sinar matahari karena memiliki perlindungan pigmen yang lebih sedikit dibandingkan bagian kulit lainnya.

Baca Juga: Tanggul Penahan Longsor di Kampung Bongas Mulai Dibangun, Warga Diminta Tak Dirikan Bangunan di Bibir Tebing

Paparan sinar matahari berlebihan dapat menyebabkan bibir menjadi kering, pecah-pecah, bahkan meningkatkan risiko kerusakan kulit dalam jangka panjang.

Pada umumnya, bibir kering dapat membaik dengan menjaga hidrasi tubuh dan menggunakan pelembap bibir yang sesuai. Namun, apabila kondisi berlangsung dalam waktu lama, sering kambuh, atau disertai luka yang tidak kunjung sembuh, pemeriksaan medis perlu dilakukan.

Menurut para ahli kesehatan, bibir kering yang terus berulang dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu, termasuk kekurangan nutrisi, alergi, atau kondisi medis lainnya yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Siti Balqis Sari Manah