BOGOR, CEKLISSATU - Perbedaan capaian akademis antara anak laki-laki dan perempuan tidak muncul tiba-tiba di bangku SMA atau kuliah. Ia sudah terlihat jelas sejak anak-anak memasuki sekolah dasar. Data dari dua studi longitudinal nasional di Amerika Serikat pada 1999 menunjukkan bahwa anak perempuan sudah memiliki kemampuan membaca yang lebih baik dibandingkan anak laki-laki sejak taman kanak-kanak. Pada saat masuk taman kanak-kanak, anak perempuan memiliki skor membaca sekitar 0,14 standar deviasi lebih tinggi daripada anak laki-laki, dan kesenjangan ini bertahan hingga kelas 5 SD. Hasil serupa juga terlihat pada National Assessment of Educational Progress (NAEP), di mana anak perempuan secara konsisten mendominasi anak laki-laki dalam membaca di kelas 4, 8, dan 12. Bahkan UNESCO mencatat bahwa di 23 dari 25 negara dengan data yang tersedia, persentase anak perempuan yang mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca di kelas 2 atau 3 lebih tinggi daripada anak laki-laki.
Baca Juga: Sepatu Bau Setelah Dipakai? Ini Tiga Bahan Dapur yang Bisa Dicoba
Dalam kerentanan anak laki-laki cenderung lebih rentan terhadap masalah perilaku dan kesulitan belajar. Mereka lebih mungkin diidentifikasi memiliki disabilitas belajar, lebih sering terlibat perkelahian, dan lebih sering menunjukkan perilaku mengganggu di kelas. Hal ini berdampak pada tingkat disiplin yang lebih tinggi dan tingkat putus sekolah yang lebih rendah dibandingkan anak perempuan. Di banyak masyarakat, aktivitas sekolah dan mata pelajaran tertentu dianggap bertentangan dengan ekspresi maskulinitas. Anak laki-laki sering merasa bahwa bersikap rajin atau berprestasi di sekolah adalah tidak keren atau tidak jantan. Seorang siswa laki-laki di Lesotho yang dikutip dari hasil wawancara UNESCO mengatakan bahwa orang tuanya menyuruhnya mencari ternak yang hilang, sehingga ia pulang terlambat dan tidak punya waktu untuk belajar. Selain itu faktor kemiskinan dan kebutuhan bekerja yang membuat faktor ekonomi juga menjadi pendorong utama putus sekolah pada anak laki-laki. Di banyak keluarga miskin, anak laki-laki diharapkan untuk berkontribusi pada pendapatan keluarga, sementara anak perempuan sering dianggap lebih penting untuk tetap bersekolah karena alasan tertentu. Ditambah perbedaan dalam ketekunan membuat anak perempuan memiliki prestasi akademis yang lebih tinggi, tidak ada perbedaan signifikan dalam komitmen terhadap tugas antara anak laki-laki dan perempuan. Namun, aspek ketekunan (perseverance) terbukti memiliki hubungan yang lebih erat dengan prestasi akademis pada siswa laki-laki.