JAKARTA, CEKLISSATU.COM – Di tengah tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau harapan yang tidak sesuai kenyataan, emosi negatif sering kali muncul tanpa bisa dihindari.
Menurut World Health Organization WHO), stres dan tekanan emosi negatif merupakan respons alami manusia terhadap situasi yang menantang.
Meski demikian, kemampuan mengelola emosi negatif menjadi faktor penting agar seseorang tidak merasa kewalahan dan tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik
Berikut cara mengelola emosi negatif dengan lebih sehat sehingga pikiran tetap tenang dan terkendali.
1. Mengenali Emosi yang Dirasakan
Langkah pertama dalam mengelola emosi adalah mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Tidak sedikit orang yang langsung bereaksi ketika marah atau kecewa tanpa memahami penyebab utama dari emosinya.
Menurut Simply Psychology, kemampuan mengenali dan memahami emosi merupakan bagian penting dari emotional regulation atau regulasi emosi.
Dengan menyadari perasaan yang muncul, seseorang dapat lebih mudah menentukan respons yang tepat dibandingkan bereaksi secara impulsif.
2. Memberi Waktu untuk Menenangkan Diri
Ketika emosi sedang memuncak, mengambil jeda sejenak dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih. Berjalan kaki, menarik napas dalam-dalam, atau menjauh sementara dari situasi yang memicu emosi dapat menjadi pilihan.
Menurut Cleveland Clinic, kemarahan memicu respons fight-or-flight yang menyebabkan detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh berada dalam kondisi tegang.
Karena itu, teknik relaksasi dapat membantu menurunkan intensitas emosi sebelum mengambil keputusan atau berbicara dengan orang lain.
Baca Juga: Bukan Sekadar Langkah Santai, Ini Cara Jalan Kaki yang Bisa Membentuk Massa Otot
3. Mengungkapkan Perasaan dengan Cara yang Sehat
Mengelola emosi bukan berarti memendam semua perasaan yang muncul. Namun, emosi tetap perlu disampaikan secara tepat agar tidak menimbulkan konflik tambahan.
Menurut Healthline, mengekspresikan perasaan secara sehat dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang dialami sekaligus mengurangi risiko konflik akibat luapan emosi yang tidak terkendali.
Berbicara dengan orang yang dipercaya atau menuliskan perasaan dalam jurnal dapat menjadi salah satu cara untuk menyalurkan emosi.
Baca Juga: Meski Santai, Olahraga Golf Ternyata Dapat Perpanjang Umur Hingga Lima Tahun
4. Mengubah Cara Pandang terhadap Situasi
Cara seseorang menafsirkan suatu peristiwa dapat memengaruhi intensitas emosinya. Dalam psikologi, pendekatan ini dikenal sebagai reappraisal, yaitu melihat suatu situasi dari sudut pandang yang berbeda.
Psychology Today menjelaskan bahwa mengubah cara berpikir terhadap suatu kejadian dapat membantu mengurangi kemarahan, kecemasan, maupun kekecewaan.
Misalnya, kegagalan tidak selalu harus dipandang sebagai akhir dari segalanya, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Baca Juga: Jalan Kaki 15 Menit Disebut Bisa Tingkatkan Kreativitas
5. Menjaga Pola Hidup Sehat
Kondisi fisik juga berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, dan minim aktivitas fisik dapat membuat seseorang lebih mudah merasa marah atau frustrasi.
WHO menyarankan menjaga pola tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin berolahraga untuk membantu tubuh menghadapi stres dan tekanan emosional. Kebiasaan tersebut juga dapat mendukung kesehatan mental secara keseluruhan.
Para ahli menekankan bahwa marah dan kecewa bukanlah emosi yang harus dihilangkan. Simply Psychology menjelaskan bahwa setiap emosi memiliki fungsi tersendiri, termasuk memberi sinyal bahwa ada kebutuhan, harapan, atau nilai yang dianggap penting oleh seseorang.
Karena itu, yang terpenting bukanlah menghindari emosi negatif, melainkan belajar meresponsnya dengan cara yang sehat. Kemampuan mengelola emosi dengan baik membantu seseorang menghadapi berbagai situasi dengan lebih tenang, menjaga hubungan dengan orang lain, serta mendukung kesehatan mental dalam jangka panjang.
(MG/Siti Balqis Sari Manah)