BOGOR, CEKLISSATU - Kapolda Jawa Barat (Jabar), Irjen Pol Sutana mengatakan bahwa terdapat 30-40 titik lokasi rawan bencana longsor di wilayah Jawa Barat.
"Kami sudah melaksanakan pencegahan dengan mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana untuk segera pindah karena musim penghujan yang masih belum bisa kita prediksi kapan selesainya," ucapnya saat meninjau lokasi longsor di Gang Barjo, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor pada Jumat, 14 Oktober 2022.
Melihat penanganan bencana yang terjadi di Kota Bogor, Sutana pun mengapresiasi Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor besera TNI, Polri dan lemen masyarakat yang telah gerak cepat membantu saudara maupun warga yang menjadi korban dan terdampak dari bencana tersebut.
Baca Juga : Korban Hanyut di Tegallega Bogor Ditemukan Tewas di Depok
"Luar biasa segala sesuatu sudah dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Bogor, ini bagus semuanya, dapur lapangan semua bekerja sama hingga menemani saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah agar tetap semangat," ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya menuturkan bahwa pemerintah kota sudah menetapkan kondisi tanggap darurat bencana. Ini memberikan ruang, lanjut Bima, yang lebih maksimal untuk penanganan bencana, mengkoordinasikan bencana lintas wilayah, penganggaran dan lainnya agar bergerak cepat.
"Kita antisipasi, prediksi dari BMKG sampai awal tahun depan mengingat banyak sekali titik, kemarin saja ada 34, total ada 700an titik. Keluarga yang terdampak 1.500, banyak sekali," ujarnya.
"Jadi kita siagakan semua posko di dinsos resmi dibuka hari ini, silahkan warga yang mau menyumbang dan saya meminta semua siaga dan kami buka melalui sosial media warga silahkan memberikan masukan aspirasi agar penanganan bencana ini bisa dilakukan bersama sama termasuk relokasi," sambungnya.
Bima menegaskan, pemerintah kota akan melakukan pemetaan. Saat ini ada tempat yang kosong di rusunawa, bagi yang ingin bergeser bisa langsung di proses di rusunawa. Bima mengaku, dirinya sudah mengecek ada 30 unit di rusunawa yang kosong.
"Dan ini bukan sementara, ini ada alokasinya, tapi kita berbicara relokasi permanen. Kalo mau sementara, kita banyak tempat penampungan sementara, bagi yang tidak mau saya rasa di seluruh kota atau kabupaten di Indonesia sama. Setelah terkena dampak bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai baru merasakan dampaknya. Ini PR semua dan secara bertahap kita lakukan," katanya.