BOGOR, CEKLISSATU.COM– Wacana mengenai kemungkinan percepatan Pemilu atau suksesi nasional yang belakangan ramai diperbincangkan dinilai belum tentu mencerminkan adanya keputusan politik yang benar-benar telah disiapkan.

Founder Visi Nusantara Maju, Yusfitriadi, menilai isu percepatan Pemilu yang mencuat ke ruang publik lebih menyerupai upaya “cek ombak” politik untuk membaca respons masyarakat dan memetakan konfigurasi kekuatan politik.
Pandangan tersebut disampaikan Yusfitriadi dalam diskusi yang digelar Gerakan untuk Indonesia Adil dan Demokratis (GIAD) bertajuk “Bila Pemilu Dipercepat, Siapakah Kita?”, di Kantor Visi Nusantara Maju, Perum Bumi Cibinong Endah, Kabupaten Bogor, Jumat (28/8/2026) sore.

Wacana percepatan Pemilu sebelumnya mencuat setelah potongan video Ketua Umum Projo, Budi Arie, beredar dan menyinggung kemungkinan percepatan Pemilu sebelum jadwal yang telah ditetapkan pada 2029.

Baca Juga: Soal Sengketa Pemilu 2024 di Bogor Barat, MK Tolak Gugatan Partai Golkar  

Namun, Yusfitriadi mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menafsirkan narasi politik tersebut sebagai keputusan yang telah memiliki dasar hukum dan konstitusional.

“Skenario percepatan suksesi nasional itu mengemuka karena ada narasi yang sengaja dihembuskan. Tetapi kalau kita rasional, jangankan untuk pemilu yang dipercepat, untuk persiapan Pemilu 2029 sesuai jadwal normal saja, DPR RI dan pemerintah nampaknya belum siap,” tegas Yusfitriadi.

Menurutnya, persoalan yang seharusnya menjadi perhatian saat ini bukan sekadar apakah Pemilu bisa dipercepat atau tidak. Yang lebih mendesak adalah memastikan negara memiliki desain, regulasi, dan kesiapan kelembagaan yang memadai untuk menyelenggarakan Pemilu 2029.

Putusan MK Jadi Pekerjaan Rumah
Yusfitriadi menyoroti masih banyaknya persoalan mendasar dalam desain Pemilu 2029 yang harus segera diselesaikan.