“Saya tetap jual Rp10.000 seporsi. Kalau soal ramai, ya kadang ramai, kadang sepi. Tapi yang saya jaga bukan cuma jualannya,” ujar Acep. “Yang lebih mahal dari sebuah warisan, ya kenangan itu sendiri.”

Baca Juga: Tingkatkan Potensi Wisata Berbasis Sungai, Bupati Bogor Berikan Ini untuk Desa Wisata Sipak

Kalimat itu ia ucapkan lirih, seperti mantera. Dan mungkin benar adanya, warisan tak melulu soal harta atau benda.

Kadang ia hidup dalam cara menggenggam sendok kayu, dalam racikan sambal bawang, atau dalam tawa pelanggan lama yang berkata, “Rasanya masih sama kayak dulu, Cep.”

Acep masih menggunakan resep ayahnya, tanpa perubahan. Kaldu ayam direbus perlahan, mie direbus pas, dan topping ayam kecap gurih manis itu masih punya rasa yang mengingatkan siapa pun akan masa lalu. Bahkan sendok dan mangkuk yang digunakan pun masih beberapa peninggalan sang ayah.

“Kadang saya kangen Bapak. Tapi setiap saya jualan, rasanya kayak dia masih di sini. Berdiri di sebelah saya,” kata Acep sambil tersenyum kecil.

Baca Juga: Ditengah Keterbatasan Pemuda Parungsapi Jasinga Manfaatkan Bambu Satukan Harapan Wujudkan Desa Wisata

Tak banyak yang tahu, setiap subuh Acep selalu membersihkan gerobak sambil bersenandung lirih tentang hal yang seolah menjadi penghubung batin dengan sang bapak yang telah tiada.