BOGOR, CEKLISSATU– Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim beserta Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin menghadiri Kegiatan Rembuk Stunting tingkat Kota Bogor tahun 2025 di Hotel Royal Bogor, Jalan Ir. H. Juanda No. 16 Kota Bogor, Rabu, (24/9/2025) 

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya mendorong penurunan prevalensi dan mencegah kasus baru. Usai menghadiri kegiatan tersebut Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa target utama Kota Bogor ke depan adalah mencapai Zero New Stunting.

"Hari ini kita melaksanakan rembuk stunting, tujuannya adalah Kota Bogor menjadi Zero New Stunting. Tidak boleh ada lagi tambahan kasus stunting. Itu target kita," tegas Dedie kepada wartawan, saat akan meninggalkan lokasi kegiatan. 

Baca Juga: Atasi Stunting di Mimika, TNI Turun Langsung Berikan Makanan Tambahan Bernutrisi

Dedie mengakui tantangan di tahun 2025 cukup besar karena prevalensi stunting di Kota Bogor justru meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tantangannya masih cukup besar, karena 2024 ini kita start dari angka 21,20 persen. Padahal tahun sebelumnya kita berada di 18,2 persen," ungkapnya.

Menurut Desie, Salah satu strategi yang dinilai penting  dengan adanya SPPG  yang kini sudah terbentuk di Kota Bogor.

"Saya optimis. Dengan keberadaan SPPG di Kota Bogor, kita punya modal yang kuat. Saya juga sudah minta supaya program ini tidak hanya menyentuh siswa dan siswi di sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," jelas nya. 

Selain itu, Dedie meminta seluruh jajaran wilayah mulai dari camat hingga lurah untuk memperkuat koordinasi dan sinergi dengan SPPG agar intervensi stunting lebih terarah dan efektif.

Baca Juga: Desa Kalongsawah Sosialisasi Lingkungan Hidup Tekan Stunting, Dorong Masyarakat Peduli Kebersihan

"Koordinasi dengan camat, lurah yang masih punya data anak-anak stunting harus diperkuat. Kalau tidak ada komunikasi, sinergi, dan kolaborasi, tidak akan pernah selesai urusan ini. Padahal kesempatannya sudah di depan mata," Kata Dedie. 

Dalam hal ini, Dedie juga menyoroti pentingnya kolaborasi yang nyata, bukan sekadar formalitas atau narasi belaka. Dari total 1.588 anak yang terindikasi stunting, Pemkot Bogor menargetkan penurunan jumlah menjadi 1.510 anak melalui intervensi terfokus.

"Kolaborasi ini harus betul-betul nyata. Jangan hanya formalitas. SPPG yang sudah ada di Kota Bogor jumlahnya 32, itu harus bisa ikut mengintervensi kasus-kasus stunting dan memastikan tidak ada lagi penambahan kasus baru," paparnya. 

"Kita harus menurunkan dari 1.588 anak menjadi 1.510, dan yang paling penting adalah tidak boleh ada lagi new stunting. Itu yang utama," tutur Dedie.