“Kasus campak, pertusis, bahkan polio kembali ditemukan dalam tiga tahun terakhir, padahal sebelumnya sudah hampir hilang. Ini akibat cakupan imunisasi yang sangat rendah, terutama selama masa pandemi,” ungkapnya dalam keterangan resminya.
Adang juga mengungkapkan bahwa tantangan utama di lapangan meliputi tingginya mobilitas masyarakat, kurangnya waktu orang tua karena bekerja, hingga penolakan imunisasi karena alasan keyakinan atau kekhawatiran efek samping.
“Oleh karena itu, kami melibatkan tokoh agama seperti dari MUI untuk memberi pemahaman, juga TNI-Polri untuk membantu mobilisasi sasaran. Semua pihak harus bergerak bersama,” lanjut Adang.
Dinkes juga menggandeng NGO Clinton Health Access Initiative (CHAI) yang selama ini konsisten membantu fasilitasi kegiatan imunisasi di Kabupaten Bogor.
Langkah-langkah strategis yang dibahas meliputi pemetaan sasaran zero dose, edukasi berbasis komunitas, serta pendataan dan pelacakan anak yang belum imunisasi melalui lintas sektor.
Baca Juga: Komitmen Tingkatkan Keselamatan dan Kenyamanan Warga, Pemkab Bogor Optimalkan Penerangan Jalan Umum
“Data nama anak-anaknya sudah ada. Tinggal bagaimana bersama kita datangi, kita lengkapi imunisasinya. Kalau hanya tenaga kesehatan yang turun, jangkauannya terbatas. Maka kita butuh peran dari semua pihak,” terang Adang.