BOGOR, CEKLISSATU.COM - Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mendampingi Menteri BKKBN Wihaji meninjau pelaksanaan Dapur Anak Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di Tanah Sareal, Rabu (28/1/2026). 

Jenal menegaskan, bahwa DASHAT di Kebon Pedes bukan pesaing program Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan solusi konkret berbasis swadaya masyarakat untuk mempercepat target zero new stunting di Kota Bogor.

Jenal Mutaqin mengatakan, program DASHAT sejatinya telah lama berjalan di Kota Bogor. Namun, selama ini penerima manfaat masih terbatas pada skala kecil di tingkat kelurahan.

Baca Juga: 16 Bayi di Kota Bogor Resmi Lulus Stunting Setelah 6 Bulan Program Rahasia, Begini Jurus Pemkot & Rumah Zakat

Menurutnya, pelaksanaan DASHAT sebagai pilot project ini menjadi solusi atas belum meratanya cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama bagi kelompok sasaran rentan.

"Hari ini sasaran BGN atau SPPG memang belum sepenuhnya menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena itu, Kota Bogor dipilih sebagai percontohan dapur makan bergizi gratis bagi kelompok sasaran tersebut," jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, DASHAT di Kebon Pedes menyalurkan sekitar 100 porsi makanan bergizi setiap hari. 

Baca Juga: Pemkot Bogor Siapkan Sistem Monitoring Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Proses memasak dilakukan oleh masyarakat setempat, sedangkan pendistribusian dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang selama ini berperan dalam pendataan dan pendampingan anak stunting.

"Makanan dimasak langsung oleh masyarakat, kemudian dibagikan oleh TPK yang kita bina selama ini. Dengan keterlibatan semua pihak dan lembaga, saya yakin percepatan pencegahan stunting di Kota Bogor bisa lebih maksimal menuju zero new stunting," kata Jenal.

Jenal juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas perhatian dan kepedulian terhadap warga berisiko stunting melalui program DASHAT.

Baca Juga: Distribusi MBG SPPG Cijujung Terhenti, DKP Kabupaten Bogor Tegaskan Tak Masuk Skema Pengawasan

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian yang telah peduli terhadap anak-anak stunting dan warga berisiko stunting melalui dapur DASHAT ini, sebagai dapur sehat untuk cegah stunting," ungkapnya.

Ia menambahkan, evaluasi program akan dilakukan selama dua bulan ke depan untuk melihat dampak DASHAT terhadap peningkatan asupan gizi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

"Kita akan melihat dua bulan ke depan bagaimana peningkatan kondisi gizi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dari program ini," ujarnya.

Baca Juga: Distribusi MBG Mandek, Sekolah di Sukaraja Bogor Ancam Pindah dari SPPG Cijujung

Terkait perbedaan antara DASHAT dan dapur MBG, Jenal menegaskan bahwa keduanya memiliki konsep yang berbeda namun saling melengkapi.

"DASHAT ini berbeda dengan dapur MBG. DASHAT dilaksanakan langsung di rumah masyarakat dan berbasis swadaya. Tujuannya untuk membangkitkan partisipasi masyarakat," jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa program DASHAT tidak dimaksudkan untuk menyaingi MBG, melainkan menjadi mitra strategis dalam percepatan pemenuhan gizi masyarakat.

Baca Juga: Rakor TP3S Lintas Sektor, Penurunan Angka Stunting Jadi Prioritas Utama Pembangunan Kabupaten Bogor

"Ini bukan untuk menyaingi MBG, tetapi justru menjadi mitra dalam percepatan pemberian gizi terbaik, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berpotensi stunting," tutup Jenal.