“Permainan layang-layang bukan hanya rekreasi, tapi juga terapi sosial. Ia menciptakan ruang interaksi nyata, meminimalisir kecanduan gadget, dan menjadi penyeimbang terhadap gaya hidup hedonistik yang makin menjangkiti masyarakat kita,” tegas Dery.
Baca Juga: Tebing Penahan Tanah Longsor di Nanggung Bogor, Satu Rumah Tertimpa dan Empat Keluarga Mengungsi
Ia mendorong pemerintah daerah dan komunitas lokal untuk lebih aktif memfasilitasi ruang-ruang budaya semacam ini, agar permainan rakyat tidak hanya sekadar kenangan, tapi hidup dan tumbuh sebagai gaya hidup alternatif.
Fenomena di Nanggung ini menjadi bukti, bahwa di tengah arus deras digitalisasi, ada sekelompok masyarakat yang memilih untuk tetap berpijak pada tanah, bukan sekadar terhubung ke awan.
Mereka tidak anti-teknologi, tapi tahu kapan harus memutus koneksi demi menyambung kembali pada akar. (DIDIN KHAERUDIN)