Di antaranya kurangnya minat untuk melanjutkan pendidikan hingga kondisi ekonomi yang membuat sebagian warga harus bekerja sejak usia muda.
“Faktornya macam-macam, ada yang memang tidak mau sekolah, ada juga yang sudah bekerja sejak muda. Karena itu kami terus memberikan edukasi agar mereka bersedia melanjutkan pendidikan,” katanya.
Berdasarkan data terbaru, terdapat 57 warga yang tercatat putus sekolah. Namun, setelah dilakukan edukasi, tidak semua menunjukkan respons positif.
“Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya masih belum bersedia melanjutkan sekolah, bahkan ada yang sudah pindah domisili,” ungkapnya.
Meski demikian, pihak kelurahan memastikan akan terus melakukan pendekatan persuasif dan pendampingan agar semakin banyak warga yang kembali mengenyam pendidikan melalui program PKBM.