Peserta kemudian diajak mengikuti sesi Quranic Journaling Healing bersama Ketua Yayasan Kampoong Ecopreneur Sofie Beatrix. Ustadzah Sofie juga meminta jamaah memejamkan mata dan memikirkan satu persoalan berat yang sedang dihadapi. Setelah itu, peserta diajak membuka Al-Qur’an, menunjuk satu ayat secara acak, lalu membaca dan merenungkannya. Sofie mengajak mereka kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam menghadapi persoalan hidup.


Pada Sabtu pagi, Jamil membawakan kajian “The Art of Surrender, Sejenak Kita Pulang”. Di hadapan peserta di lokasi dan secara daring, ia menjelaskan perbedaan berserah dan kehilangan harapan. 


“Give up itu artinya berhenti karena kehilangan harapan,” katanya. 

Adapun berserah, menurut Jamil, berarti tetap mencari jalan terbaik tanpa memaksa kehidupan berjalan sesuai dengan kehendak manusia.


Retret ini dirancang menjadi kegiatan berkelanjutan bagi komunitas MHJA. Kelebihan infak peserta akan digunakan untuk operasional Tahfidz Ecopreneur. Kegiatan tersebut juga mendukung upaya Kampoong Ecopreneur menghimpun donasi Rp 45 miliar dalam dua tahun.


Di antara peserta yang mengikuti kajian itu ada Aisyah, warga Bogor berusia 80 tahun. Ia mengaku senang bisa mengikuti retret tersebut. 


“Karena di acara ini kita diajak untuk tak pernah berhenti belajar,” ujarnya.


Selain itu, salah satu peserta, Asep Sutisna sangat senang dengan acara ini.

“Bagus banget acaranya. Kita perlu berhenti sejenak dari semua hiruk pikuk aktivitas untuk kembali ke diri ke sesama dan ke Allah,” kata Tisna.


Bukan hanya Tisna, salah satu dosen yang datang dari wilayah jember, Sri Sukmawati menuturkan bahwa dirinya merasa beruntung dapat mengikuti kegiatan tersebut. 

“Alhamdulillah saya beruntung ikut acara pertama ini, banyak insight yang didapat,” ungkap Sri Sukmawati.