Seluruh 25 Puskesmas menyediakan layanan TBC termasuk TBC-HIV. Sementara itu, RSUD Kota Bogor menjadi rumah sakit rujukan untuk penanganan TBC Resisten Obat.
Baca Juga: Pemkot Bogor dan BPJS Ketenagakerjaan Sosialisasikan Program Perlindungan Pekerja Jasa Konstruksi
Selain itu, terdapat 15 laboratorium diagnosis TBC yang tersebar di Puskesmas, rumah sakit, dan Labkesda untuk memastikan akses pemeriksaan lebih cepat dan dekat. Erna menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir soal biaya.
“Semua layanan TBC di fasilitas kesehatan pemerintah gratis. Mulai dari pemeriksaan dahak dengan Tes Cepat Molekuler, rontgen, pemeriksaan HIV, sampai obat dan pemantauan selama pengobatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pasien juga mendapatkan pemeriksaan kontak serumah dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi yang memenuhi kriteria, termasuk dukungan nutrisi untuk membantu pemulihan.
Dalam mempercepat eliminasi TBC, Pemkot Bogor menjalankan sejumlah inovasi, antara lain: AKSI GEULIS, integrasi skrining TBC dengan cek kesehatan gratis dan penggunaan portable X-ray di komunitas.
Baca Juga: Kembali Kumuh, Pemkot Bogor Turunkan TNI-Polri Untuk Penataan Jalan MA Salmun hingga Mayor Oking
SIKASEP, strategi peningkatan investigasi kontak dan perluasan TPT. Active Case Finding (ACF) di wilayah berisiko tinggi.
Menurut Erna, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berbasis fasilitas kesehatan, tetapi juga berbasis komunitas.
Ia menuturkan bahwa pihaknya menerapkan pendekatan ABCDE: Antar ke Puskesmas, Beri dukungan, Cari kontak erat, Dilaporkan bila sembuh, dan Edukasi masyarakat.
“Kami ingin memastikan tidak ada pasien yang putus obat dan tidak ada kontak erat yang terlewat. Eliminasi TBC harus dilakukan sampai ke tingkat kelurahan,” katanya.
Baca Juga: Optimis Kota Bogor Bebas Stunting, Jenal Mutaqin Beberken Strategi Pemkot
Erna mengakui masih ada tantangan berupa tingginya mobilitas penduduk, kepadatan wilayah perkotaan, keterbatasan pembiayaan untuk kasus TBC RO, serta stigma di masyarakat.