KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM– Di sebuah sudut wilayah Cicopong, Desa Cigudeg, denyut ekonomi kecil berputar pelan.
Otoy, seorang pelaku UMKM, menghela napas panjang ketika menceritakan hari-harinya yang belakangan dirasa berat. Dua pekan terakhir, roda usahanya berjalan, tapi tak secepat biasanya.
"Mau gimana lagi, masih bisa memutar modal tanpa untung pun kita sudah bersyukur," ucapnya lirih, Kamis (28/8/2025).
Otoy sadar, ada ritme tak terucap yang sedang menekan dompet masyarakat. "Bisa jadi karena tanggal tua, atau memang orang-orang juga sama lagi sulit. Jadi ya sabar aja," tambahnya, mencoba berdamai dengan keadaan.
Biasanya, ketika situasi stabil, setiap hari Otoy mampu meraih keuntungan bersih antara Rp75 ribu hingga Rp150 ribu.
Bagi seorang pedagang kecil, angka itu bukan sekadar rupiah, melainkan napas yang menjaga dapur tetap berasap.
"Kalau lagi stabil mah ya lumayan, kang. Untung bersih segitu cukup lah untuk kebutuhan keluarga sehari-hari," ujarnya menutup cerita.
Di tempat berbeda, Pengurus Desa Wisata Sipak, Eusi Nurlina pun menyampaikan hal serupa, dimana dalam dua pekan ini pengunjung Desa Wisata yang ia kelola tampak sepi.
"Iya sepi sudah dua minggu ini, mungkin sudah tanggal tua atau uangnya habis perayaan Agustusan." ungkap Eusi Nurlina.
Di balik senyum pasrah Otoy dan Euis, tersimpan potret lebih besar, UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat, ternyata rapuh menghadapi gelombang lesunya daya beli.
Meski begitu, dari Cicopong kita belajar, bahwa dalam keterbatasan, rasa syukur masih bisa tumbuh meski hanya karena modal yang masih sempat berputar.