BOGOR, CEKLISSATU - Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, pimpin Apel Pagi yang dirangkaikan dengan kegiatan bersih-bersih sungai Cipakancilan dan Penanaman Pohon. Selasa (21/7/2026)
Selain di ikuti beberapa unsur terkait, kegiatan yang menjasi penutup rangkaian Program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun 2026 itu juga di ikuti oleh ratusan siswa dari Sekolah BPK Penabur, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan tersebut diisi dengan aksi penanaman pohon dan bersih-bersih Sungai Cipakancilan sebagai bagian dari upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Dedie Rachim mengatakan, kegiatan di BPK Penabur menjadi penutup pelaksanaan MPLS di Kota Bogor setelah sebelumnya dilaksanakan di jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) negeri.
Baca Juga: Hari Pertama MPLS di SMPN 18, Dedie Rachim Ajak Pelajar Peduli Lingkungan Lewat Penanaman Pohon
"Hari ini merupakan penutupan program MPLS. Kemarin sudah dilaksanakan di tingkat SD dan SMP negeri. Sekarang kami juga melibatkan SMP swasta, yaitu BPK Penabur. Kegiatan dilaksanakan di kawasan Paledang dan Panaragan dengan melibatkan sekitar 500 siswa yang kini sudah siap mengikuti proses belajar mengajar," ujar Dedie kepada wartawan.
Menurut Dedie, kegiatan penanaman pohon dan aksi bersih-bersih Sungai Cipakancilan bertujuan memastikan sosialisasi program pelestarian lingkungan dapat diterima dan dijalankan oleh seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, di Kota Bogor.
"Program ini untuk memastikan bahwa sosialisasi penanaman pohon dapat menjangkau seluruh sekolah, termasuk sekolah swasta. Sehingga ketika nantinya kebijakan ini diterapkan secara menyeluruh, tidak lagi muncul pertanyaan mengenai manfaat dan tujuannya karena semua sudah memahami pentingnya menjaga lingkungan," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedie juga memberikan apresiasi kepada seorang warga bernama Uya yang selama bertahun-tahun secara sukarela membersihkan sampah di Sungai Cipakancilan.
"Saya memberikan apresiasi kepada Pak Uya yang ikut membersihkan sungai. Beliau sudah hampir 15 tahun memilah sampah yang dibuang ke sungai. Sampah plastik yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan dan dijual. Ada juga styrofoam dan bungkus minuman kemasan yang jumlahnya sangat banyak," ungkapnya.
Dedie mengaku prihatin karena sampah yang paling banyak ditemukan di aliran sungai justru merupakan popok sekali pakai (pampers). Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih bertanggung jawab dalam membuang sampah.
"Yang paling menyedihkan adalah sampah yang paling banyak kami temukan justru pampers. Saya mengimbau para orang tua agar ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pampers tidak boleh dibuang ke sungai maupun ke saluran air. Kita juga akan mendukung Program Mulyakan Sungai yang digagas Pak AHY sebagai bagian dari kampanye pelestarian alam dan lingkungan," ujarnya.
Menanggapi pertanyaan wartawan mengenai sosok Pak Uya, Dedie menjelaskan bahwa pria tersebut telah lama membantu menjaga kebersihan sungai secara mandiri.
"Iya, beliau sudah lama membantu membersihkan sungai. Nanti saya akan meminta Kepala Dinas Lingkungan Hidup agar memberikan bentuk dukungan supaya Pak Uya tetap semangat. Mengumpulkan sampah itu membutuhkan tenaga yang besar, apalagi usia beliau sudah sekitar 70 tahun. Ini merupakan dedikasi yang luar biasa," pungkas Dedie.