Sementara itu, Perwakilan Yayasan Cipta Karya Harinny, Kawitan Budi Santoso atau yang lebih akrab di sapa Budi, menjelaskan, Bahan pokok yang digunakan dalam operasional dapur SPPG Ranggamekar juga mengutamakan produk lokal dari pedagang sekitar dan pelaku UMKM.
“Kita libatkan pedagang lokal untuk pembelian bahan dan kebutuhan dapur. Tidak boleh ambil dari luar selama bisa dari UMKM sekitar, dan khusus untuk cabai dan santan tidak boleh di gunakan dalam pengolahan masakan untuk MBG,” jelas Budi.
Untuk membuka dapur SPPG di suatu wilayah, Budi menjelaskan bahwa prosesnya tidak bisa instan. Harus melalui pengajuan, verifikasi, hingga kesiapan infrastruktur.
Baca Juga: Pulau Jawa Catat Kasus Keracunan MBG Terbanyak, Menkes Rinci Penyebabnya
“Sekarang semua harus daftar dan nunggu verifikasi lalu dikasih waktu dulu untuk mempersiapkan, kalau dinyatakan secara fasilitas dan SDM baru bisa jalan," ujarnya.
Dapur Amena sendiri saat ini dibantu sebanyak 47 karyawan yang seluruhnya direkrut dengan melibatkan rekomendasi dari Lurah dan LPM setempat, dengan prioritas kepada warga yang membutuhkan pekerjaan.
Budi juga menyebut bahwa ke depan, dapur SPPG akan memiliki cakupan program lebih luas, termasuk penanganan masalah stunting. Dalam waktu dekat, pihaknya berencana membuka dapur kedua di kawasan Batutulis.
“Harapannya, dapur ini bisa jadi awal untuk gizi anak-anak yang lebih baik, membuka lapangan kerja, dan membantu ekonomi warga sekitar. Ke depan kita juga akan masuk ke program B3 dan stunting. Target berikutnya di Batutulis,” pungkasnya.