BOGOR, CEKLISSATU.COM - Ketahanan pangan menjadi isu global yang semakin mendesak. Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan bahwa pada tahun 2050, kebutuhan pangan manusia akan meningkat hampir dua kali lipat.
Di sisi lain terdapat tantangan dala pemenuhan pangan, salah satunya adalah serangan penyakit tanaman yang menurunkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.
Selama beberapa dekade terakhir, petani di Indonesia mengandalkan pupuk dan pestisida kimia sintetis untuk menjaga hasil panen.
Teknik budidaya yang mulai populer sejak era Revolusi Hijau pada 1960-an ini memang berhasil meningkatkan produksi dalam jangka pendek, namun di balik itu menimbulkan dampak serius.
Penggunaan yang berlebihan membuat tanah kehilangan kesuburannya, merusak sifat fisik maupun kimia tanah, serta memicu ketergantungan petani pada input eksternal yang mahal.
Akibatnya, biaya produksi meningkat, sementara kesehatan tanah dan lingkungan semakin menurun, dan telah mengesampingkan organisme yang bertanggung jawab dalam menjaga suatu tanaman dapat berkembang sesuai potensi genetiknya.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Abdjad Asih Nawangsih yang akrab dipanggil Prof Asih, dalam orasi ilmiah guru besarnya di IPB University, Bogor (20/9).