BOGOR, CEKLISSATU - Institut Agama Islam Tazkia menyelenggarakan wisuda ke-18 tahun 2022 di Puri Begawan, Kota Bogor pada Rabu, 26 Oktober 2022. Berbeda dari wisuda sebelumnya wisuda kali ini dilaksanakan secara luring dengan ketentuan satu wisudawan didampingi dua orang tua atau wali.

Meski demikian wisuda ke-18 ini tetap diselengarakan dengan kehati-hatian dan kewaspadaan tinggi serta kepatuhan pada protokol guna mencegah penularan Covid-19.

Adapun jumlah wisudawan yang terdaftar dalam wisuda ini sebanyak 350 orang pada program sarjana berjumlah 298 wisudawan, S2 atau magister berjumlah 47 orang dan D3 dengan jumlah 6 wisudawan. Dengan predikat yudisium kelulusannya yakni Dengan Pujian tertinggi 25 orang, Dengan Pujian sebanyak 143 orang, Sangat Memuaskan 173 orang.

Pada kesempatan itu, Rektor Institut Agama Islam Tazkia, Dr. Murniati Mukhlisin, M.acc, CFP menekankan bahwa ada beberapa hal yang disampaikan salah satunya Institut Agama Islam Tazkia siap bertransformasi menjadi universitas, sebab ruang lingkup ekonomi syariah itu menjadi lebih luas dan leluasa ketika menjadi universitas.

"Kita juga sudah mengakuisisi dalam sekolah tinggi bidang sistem informatika, teknik informatika dan sistem informasi. Dua program studi ini adalah salah satu yang pertama sains dan teknologi," ucapnya kepada CeklisSatu.com.

Menurut Dr. Murniati, di Kementerian Agama tidak ada program studi yang sifatnya sains, semuanya agama seperti hadist, quran dan syariah, sedangkan pihaknya memandang perlu bahwa ekonomi syariah, nilai-nilai syariah itu harus ada di sains dan teknologi, harus ada di Civil Engineering, kedokteran dan sebagainya.

"Makanya kita sudah mulai membuka ruang-ruang tersebut, dan responnya cukup bagus. Saya sampaikan bahwa kita mengkombinasikan, selama ini hafidz preneur kita S1 wirausaha 30 juz. Sekarang 30 juz dan sistem informatika. Jadi mereka pinter teknologi tetapi hafal juga Al Qur'an 30 juz," ungkapnya.

Dr. Murniati mengaku bahwa 85,7 persen lulusan dari program studi Bisnis Syariah Institut Agama Islam Tazkia terserap di dunia kerja sebelum enam bulan, dimana kebanyakan di institusi syariah.

Kendati demikian, Dr. Murniati menilai kondisi sekarang mulai bergeser. Artinya, lanjut Dr. Murniati, kalau dahulu 80 persen lulusan bekerja di institusi lembaga keuangan syariah, dan 20 persennya di lembaga lainnya, tetapi sekarang bergeser ke bisnis.

"Jadi sekarang kita melihat 50:50, misal 50 persen ke lembaga syariah seperti di pasar modal, asuransi syariah, hotel syariah, teknologi syariah dan sisnya 50 persen ke bisnis. Ada semacam pergeseran bahwa anak-anak muda kita sekarang suka berbisnis," ujarnya.

"Hebatnya salah satu keunikan tazkia itu yakni menggaet industri. Jadi industri itu kita minta datang ke kampus, mereka mengajar dan menyeleksi. Jadi mereka melihat dan menyeleksi sendiri, sehingga mahasiswa yang terbaik sudah direkrut langsung oleh mereka," sambungnya.

Lebih lanjut, Dr. Murniati berharap Institut Agama Islam Tazkia dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi islam yang bukan hanya peduli dengan pembekalan dunia, tetapi juga akhirat.

"Jangan pernah tinggalkan nilai-nilai Al Qur'an dari pembelajaran. Jangan pernah tinggalkan nilai-nilai islam dari pembelajaran karena kita tahu bahwa kalau kita pisahkan maka cara pandang peserta didik kita akan berbeda, dia akan bicara soal uang seolah-olah uang segalanya, tetapi kita kuatkan maka cara pandang mereka berbeda, dia berbicara uang tetapi dia juga berbicara kepedulian kepada masyarakat lemah, dia bicara uang tetapi dia juga bicara halal dan haramnya," jelasnya.

Dr. Murniati menambahkan bahwa sistem integrasi keilmuan Tazkia sudah diterima di masyarakat global. "Baru bulan kemarin hasil penelitian Tazkia diterbitkan dan diterima di Malaysia dan disebarkan ke seluruh dunia yakni sistem integrasi nilai-nilai Al Qur'an, nilai ekonomi, bisnis, pendidikan, hukum dan lainnya," katanya.