BOGOR, CEKLISSATU.COM – Berawal dari modal nekat dan konsistensi, UMKM DK Bingkai di Kota Bogor membuktikan bahwa ketekunan mampu membawa usaha kecil bertahan di tengah persaingan.
Dirintis sejak Desember 2014, UMKM bingkai milik Budi Wahyudi itu tumbuh dari nol hingga bertahan lebih dari satu dekade, meski sang pemilik tidak memiliki latar belakang di dunia seni bingkai.
Saat di temui di lokasi usahanya yang beralamat di Jalan Batutulis RT.03 RW 05 Kelurahan Batutulis Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor, Budi Wahyudi yang di temani sang istri, Erry Widiyanti menjelaskan bahwa nama DK tersebut berasal dari inisial nama anaknya, bukan singkatan atau afiliasi tertentu.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Lokal, Pemkab Bogor Gratiskan 100 Kios UMKM di Vivo Mall
“Banyak yang salah paham, dikira ada kaitannya dengan pihak tertentu. Padahal itu dari inisial nama anak saya, dibuat dengan huruf kapital saja,” ujarnya.
Sebelum memulai usaha DK Bingkai, Budi sempat berkarir di bidang perhotelan dan bahkan sempat berkarier di kapal pesiar.
“Latar belakang saya jauh dari dunia bingkai. Saya orang hotel, kerja di kapal pesiar. Tapi waktu itu saya ingin mencoba berusaha sendiri,” katanya.
Baca Juga: Dapur Ibu Nail Kini Hadir di Taman Heulang, Sajikan Sushi Terjangkau untuk Pecinta Kuliner Bogor
Pada awalnya, ia hanya menjadi perantara dengan mengambil bingkai dari pabrik lalu menjualnya ke toko-toko.
Setiap hari ia berkeliling menggunakan sepeda motor, menawarkan bingkai ke berbagai tempat. Usaha tersebut dijalani sekitar satu tahun.
Seiring berjalannya waktu, ia memanfaatkan sebuah ruang milik ayah mertuanya untuk dijadikan tempat usaha.
Tepat pada 10 Desember 2014, tempat tersebut mulai difungsikan secara serius, meski saat itu belum memproduksi bingkai sendiri dan masih bergantung pada pasokan pabrik.
Karena harga yang ditawarkan kompetitif, langsung dari pabrik, pelanggan pun mulai berdatangan, terutama dari kalangan fotografer.
“Karena saya ambil langsung dari pabrik, harganya bisa lebih bersaing. Margin saya sudah cukup, jadi saya fokus ke harga yang bisa diterima konsumen,” jelasnya.
Baca Juga: Perkuat Ekonomi Lokal, PT KAI Daop 1 Jakarta Dukung UMKM Lewat Program Tanjung Priok Hub 5.0
Melihat permintaan yang terus meningkat, muncul ide untuk mulai memproduksi bingkai sendiri secara manual. Tanpa mesin pemotong, produksi dilakukan secara sederhana dan bertahap.
“Awalnya masih manual, belum punya mesin. Target saya, kalau dalam tiga atau empat bulan orderan cukup, baru beli mesin satu per satu,” tuturnya.
Produksi yang semula hanya 10 – 20 lusin per minggu perlahan meningkat.
Dalam waktu sebulan, pesanan di DK Bingkai terus bertambah, dan usaha kecil tersebut kini telah berjalan 11 tahun dan terus bertahan di tengah persaingan.
Budi mengenang bahwa dorongan untuk berwirausaha juga datang dari teman lamanya saat masih bekerja di kapal pesiar.
“Waktu itu teman saya bilang, kalau pulang dan mau usaha, kabari saja. Dari situ saya makin mantap untuk tidak kembali ke kapal dan fokus usaha,” kenangnya.
Baca Juga: KOPLING 2025 Siap Guncang Jakarta dan Cibinong, Kolaborasi Musik Koplo dan UMKM Nasional
Kini, DK Bingkai dikenal sebagai usaha bingkai lokal yang tumbuh berkembang dari ketekunan, konsistensi, dan keberanian dalam berinovasi.