JAKARTA, CEKLISSATU -- Manajer Kickboxing , Rosi Nurasjati kecewa dengan PP KBI dan NOC yang belum punya sikap atas perlakuan yang tidak menyenangkan Petinggi WAKO Konfederasi Asia dan kepolisian Thailand di ajang SEA Games 2025 .
Manajer Kickboxing Indonesia Rosi Nurasjati mengaku kecewa kepada Pengurus Pusat Persatuan Kickboxing Indonesia ( PP KBI ) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI)/ National Olympic Committee ( NOC ) Indonesia yang belum merespon atas perlakuan dirinya saat di SEA Games Thailand 2025.
Rosi Nurasjati diduga mengalami perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan petinggi WAKO Konfederasi Asia dan kepolisian Thailand di ajang SEA Games 2025 . Di mana pada Sabtu (19/12/2025) di sekitar Hotel Lasantel Suvarnabhumi, Thailand, Rosi Nurasjati dianggap layaknya pelaku kriminal, dicegat dan hendak ditangkap oleh belasan polisi Thailand yang datang dengan mobil patroli, membawa senjata lengkap dan anjing pelacak.
“Kami sudah melaporkan kejadian tersebut tapi hingga kini belum ada respon positif. Saya kecewa sekali padahal saya bagian dari kontingen Indonesia,” ujar Rosi.
"Harusnya saya mendapat pembelaan sebagai warga negara Indonesia. Kalau diam saja artinya diterima semua tuduhan WAKO itu. Indonesia harus berjuang menepis tuduhan tuduhan itu. Saya sudah disampaikan ke Ketua Umum PP KBI tertanggal 27 November cuma dibaca doang," tambahnya dengan nada kecwa.
Rosi menilai sanksi suspen (dilarang) yang kedatangan WAKO Konfederasi Asia kepada dirinya berdasarkan tuduhan-tuduhan pembohong yang berujung pada fitnah. Karena tidak didasari bukti-bukti valid.
Sanksi tersebut termuat dalam surat yang dikirimkan WAKO Konfederasi Asia kepada PP KBI pada 25 November 2025 lalu. WAKO Konfederasi Asia melarang Rosi terlibat dalam kegiatan Kickboxing SEA Games 2025 .
Dalam suratnya WAKO Konfederasi Asia membeberkan belasan tuduhan yang diklaim menjadi dasar menjatuhkan sanksi kepada Rosi Nurasjati dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Prestasi PP KBI .
Dua diantara belasan tuduhan yang dialamatkan WAKO Konfederasi Asia kepada Rosi Nurasjati. Pertama Rosi Nurasjati dituduh mengganggu otoritas Kyrgistan saat memberangkatkan para atlet Kickboxing Indonesia melakukan pemusatan latihan (training camp) ke Kyrgistan.
Kemudian WAKO Konfederasi Asia juga menuduh keberangkatan Rosi Nurasjati bersama para atlet untuk training camp di Uzbekistan adalah ilegal.
Kedua, Rosi Nurasjati dituduh meng-capture dokumentasi zoom meeting dengan Presiden WAKO Konfederasi Asia Nasser Nassiri dan menyebarluaskannya di grup (WA grup). Rosi juga dituduh melakukan propaganda untuk melawan WAKO Konfederasi Asia.
Menurut Rosi tuduhan-tuduhan tersebut sangat tidak berdasar dan menjurus ke perbuatan fitnah.
"Karena berangkat ke Kyrgistan dan Uzbekistan pakai surat izin dari Setneg.
Izin Setneg itu akan keluar apabila PP KBI meminta kepada Kemenpora ingin memberangkatkan atlet. Maka kami meminta izin Setneg," bebernya
"Nassiri mengatakan itu adalah kesalahan saya," tambahnya.
Rosi menerangkan setiap kali menggunakan anggaran negara ada persyaratan khusus. Ada Undang-undang yang mengaturnya.
"Harus ada invitation letter (surat undangan resmi). Kalau tidak ada invitation letter bagaimanapun dekatnya kita dengan Kyrgistan Uzbekistan. Anggaplah ke Malaysia yang dekat. Kalau tidak ada invitation letter menggunakan uang negara itu sudah pasti temuan," tuturnya.
"Jadi kalau itu dijadikan dasar untuk menyalahkan saya. Itu tidak mendasar," tandasnya.
Rosi menambahkan program TC ke Kyrgistan merupakan tindaklanjut atas kontrak yang dibuat PP KBI dengan pelatih asal Kyrgistan.
Terkait tuduhan Rosi menyebarluaskan dokumentasi zoom meeting dan melakukan propaganda untuk melawan WAKO Konfederasi Asia.
"Disebarkan di grup mana. Propaganda apa? Mana buktinya?" tanyanya.
Setelah jatuh sanksi dari WAKO Konfederasi Asia Rosi Nurasjati telah mengirim surat pada 27 November 2025 kepada Ketua Umum PP KBI yang berisi klarifikasi atas semua tuduhan-tuduhan yang dilontarkan WAKO Konfederasi Asia kepada Rosi Nurasjati. Sekaligus meminta agar Ketum PP KBI menyampaikan klarifikasi resmi Rosi Nurasjati kepada WAKO Konfederasi Asia.
Bahkan Rosi Nurasjati juga telah melapor ke Komite Olimpiade Indonesia/NOC terkait sanksi dari WAKO Konfederasi Asia karena bisa menimbulkan persoalan di ajang SEA Games 2025.
Rosi Nurasjati menegaskan akan terus memerangi ketidakadilan yang dialaminya.
"Bukan karena saya ingin jadi manajer atau wakil ketua umum. Tapi demi harkat dan martabat bangsa dan negara," tegasnya.
Rosi Nurasjati menyayangkan perlakuan tidak menyenangkan dan ketidakadilan yang dialaminya di ajang SEA Games 2025 yang seharusnya menjunjungtinggi nilai-nilai luhur olahraga yaitu persahabatan.
Ia berharap sebagai warga negara mendapat perlindungan hukum yang selayaknya.
"Ada perlindungan hukum. Perlindungan hukum itu untuk siapa? Untuk semua warga negara Indonesia yang ada di luar negeri," harapnya.
"Jangankan saya yang sudah jelas jelas membela bangsa dan negara itu lebih dari 30 tahun sebagai atlet dan pengurus olahraga. Sedangkan ke WNI saja diberikan perlakuan yang sama untuk perlindungan hukum.Masa saya tidak!" tuturnya.
"Jika saya tidak mendapatkan perlindungan hukum yang sama maka saya lebih baik mengundurkan diri dan kembali ke pesantren," ancam Rosi.
Secara terpisah peraih medali emas SEA Games, Ryan Jefri Hamonangan Lumbanbatu meminta kepada siapa saja yang tidak suka dengan ibu Rosi dan menuding dengan fitnah-fitnah agar dicabut kembali.
"Tolong ya yg tidak suka dengan manajer kita dengan fitnah-fitnah yang tidak betul dicabut kembali," tegas Jefri yang menyebut Ibu Rosi adalah manajer yang sangat tulus yang mengerti dan peduli terhadap atlet.
Tim Kickboxing sendirii sudah menyumbangkan 1 medali emas, 1 perak dan 4 perunggu dari ajang SEA Games 2025 Thailand.Perolehan ini sesuai dengan target yang diberikan.
"Emas ini saya persembahkan untuk manajer saya yang tulus," ucap Jefri sambil menunjuk ibu Rosi di depannya.
Comment