JAKARTA, CEKLISSATU — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menargetkan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia mampu memperkecil jarak, bahkan melampaui Thailand dalam perolehan medali emas sepanjang sejarah Asian Para Games ( APG ).

Erick menilai persaingan dengan Thailand sebagai tantangan besar bagi olahraga disabilitas Indonesia. Hingga empat edisi Asian Para Games yang telah berlangsung, Indonesia mengoleksi 76 medali emas, sedangkan Thailand sudah mengumpulkan 91 emas.

"Kita sudah mempunyai 76 medali emas selama Asian Para Games, selama empat edisi, tapi momok kita bersama ini Thailand lagi. Mereka sudah punya 91 emas," kata Erick Thohir dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Menurut Erick, ambisi mencapai Thailand sejalan dengan keinginan Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan olahraga terbesar di Asia Tenggara. Prestasi atlet paralimpiade, kata dia, harus menjadi bagian penting dari pencapaian olahraga nasional.

Meski begitu, Erick menegaskan, mengejar jumlah medali emas Thailand bukanlah target yang harus langsung dituntaskan pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 . Sasaran tersebut merupakan agenda jangka panjang yang perlu dibangun melalui pelatihan atlet, persiapan kompetisi, serta dukungan fasilitas yang berkelanjutan.

Ia mengakui bahwa melampaui Thailand bukanlah hal yang mudah. Namun, Erick optimistis peluang tersebut tetap terbuka apabila NPC Indonesia mampu memaksimalkan dukungan fasilitas dan meningkatkan kualitas kesiapan atlet.

Menurutnya, NPC Indonesia telah menjalani program persiapan secara solid untuk menghadapi Asian Para Games 2026 di Jepang. Fokus saat ini adalah memastikan atlet mampu menunjukkan performa terbaik dan merealisasikan target yang telah ditetapkan.

NPC Indonesia Bidik Tujuh Medali Emas

Dalam menyambut Asian Para Games 2026, NPC Indonesia menargetkan tujuh medali emas dari 12 cabang olahraga yang akan diikuti.

Erick berharap seluruh atlet dan tim pendukung dapat tetap fokus selama persiapan hingga pertandingan berlangsung. Pemilihan cabang unggulan dan optimalisasi peluang medali menjadi faktor penting untuk mencapai target tersebut.

Salah satu tantangan yang diutarakan Erick adalah tidak dipertandingkannya cabang olahraga catur pada Asian Para Games 2026. Padahal, cabang tersebut dinilai memiliki potensi untuk memberikan medali bagi kontingen Indonesia.

“Sayang, cabang catur yang menjadi unggulan ditiadakan. Kalau tidak tereliminasi, perolehan emas bisa banyak,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat NPC Indonesia perlu memaksimalkan peluang dari cabang olahraga lain yang tetap dipertandingkan. Strategi pelatihan dan persiapan atlet pun menjadi semakin penting untuk menjaga peluang meraih hasil optimal.

Persaingan Jangka Panjang Olahraga Paralimpiade

Erick menekankan bahwa keberhasilan Asian Para Games tidak hanya diukur dari pencapaian dalam satu edisi. Konsistensi meraih medali dalam berbagai penyelenggaraan menjadi bagian penting untuk meningkatkan posisi Indonesia di antara negara-negara Asia.

Oleh karena itu, target yang dicapai Thailand perlu dipandang sebagai dorongan untuk memperkuat ekosistem disabilitas nasional. Dukungan fasilitas, pelatihan berkesinambungan, serta kesiapan atlet berkompetisi di kompetisi internasional diharapkan dapat memperbesar peluang Indonesia meraih lebih banyak medali emas.

Untuk Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, prioritas NPC Indonesia tetap pada pencapaian tujuh medali emas dari 12 cabang olahraga yang diikuti. Hasil kompetisi di Jepang diharapkan menjadi pijakan untuk membangun prestasi yang lebih tinggi pada penyelenggaraan berikutnya.

Dengan target jangka panjang tersebut, Erick berharap NPC Indonesia tidak hanya mampu bersaing dalam perebutan medali pada Asian Para Games 2026, namun juga memperkuat peluang Indonesia untuk menyalip Thailand dalam akumulasi medali emas di masa mendatang.