BOGOR, CEKLISSATU - Komunitas Moneyfasto Club bekerjasama dengan BOGORKERJA Dinas Tenaga Kerja Kota Bogor menggelar kegiatan Dari Lokal Menuju Global dengan mengusung tema Normalisasi Peluang Kerja Internasional yang berlangsung di Kantor Kelurahan Sukasari Kecamatan Bogor Timur Kota Bogor, pada Kamis (12 Juni 2025).
“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka reaksi cepat tanggap terhadap korban PHK dan tren pertumbuhan lapangan kerja yang semakin melambat,” papar Founder Komunitas Sekaligus ASN Kemnaker RI Pramdhani dalam sambutannya.
Pram sapaan akrabnya sebelumnya menjelaskan apa itu moneyfasto club, menurutnya komunitas ini terlahir dari tetesan keresahan masyarakat. Sebab dari itu Pram mengatakan memilih untuk bergerak di bidang social enterprise.
Baca Juga: Senator PFM Protes Karyawan OAP di PT GAG Dibawah 10 Persen
“Sama seperti judul kegiatan hari ini, mengapa saya memilih normalisasi ketimbang sosialisasi, karena dari diksi normalisasi terselip definisi mulia yakni penyesuaian. Bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, normalisasi lebih jauh menawarkan solusi,” sambungnya.
Acara yang dimulai dari pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB ini dihadiri Ketua Komunitas Bevi Heryanto, Anggota Komunitas Moneyfasto Club M. Arif dan Iwan, Sekretaris Lurah Kelurahan Sukasari Sugandi, Dinas Tenaga Kerja Kota Bogor diwakili oleh Widiar Wahyudi, Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia PT New Comer Buchori dan Iskandar.
Masih kata Pram dalam sambutannya, membumikan yang melangit dan mengumumkan yang tabu. Karena peluang kerja di luar negeri sampai saat ini masih dianggap suatu hal kurang familiar. Padahal, peluang ini adalah salah satu langkah akselerasi dari segi karir maupun potensi ekonomi individu di antara banyaknya opsi untuk melanjutkan hidup.
“Ini adalah salah satu opsi akselerasi? Mengapa karena, pada awal tahun ini, situasi ekonomi yang tidak menentu dan tren pertumbuhan lapangan kerja yang melambat, menyebabkan berbagai potensi masalah. Diantaranya adalah badai PHK menyelimuti Indonesia bukan hanya sekadar isu, menurut data Kemnaker sebanyak 280.000 orang kehilangan pekerjaan dampak pailitnya beberapa pabrik dan sektor usaha,” katanya.
Baca Juga: Warga Bogor Belum Tau Cara Cek BSU Juni-Juli 2025? Ini Link dan Kriteria Penerimanya
Berdasarkan laporan BPS, Dari total 145,77 juta angkatan kerja yang aktif, mayoritas justeru menggantungkan hidup pada ketidakpastian status kerja. Belum lagi ditambah laporan ILO menunjukkan mismatch pendidikan masih menjadi momok. Di 59 negara, hanya 47,7% pekerja yang pendidikannya sesuai dengan pekerjaannya, dan lebih dari 33,4% masih under-educated.
“Situasi ini semakin pelik ketika melihat bahwa pengangguran di Indonesia justeru lebih banyak berasal dari kalangan terdidik, ada 842 ribu pengangguran bergelar sarjana dan 2,29 juta penganggur lulusan SMA. Ternyata faktanya, pekerjaan informal tumbuh subur tanpa dukungan peningkatan produktivitas dan regulasi yang memadai,” paparnya dengan tegas.
Saat ini pasar offline sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari para pelanggan sepi, hal ini memaksa para konsumen untuk masuk ke dalam platform online yang setiap kali transaksi dipotong admin fee, Lebih parahnya gudang dan pabrik langsung turun ke lapangan, barang import masuk tanpa halangan.
“Posisi inilah, yang kelak menjadi trigger kami sebagai institusi ketenagakerjaan yang harus terus berinovasi menciptakan program yang solutif dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik baik saja,” tukasnya.
Handy Purnama
Comment