BOGOR, CEKLISSATU - Setiap musim penerimaan kampus baru, laporan penipuan berkedok beasiswa ikut melonjak. Modusnya beragam, mulai dari akun media sosial tiruan lembaga resmi, website dengan domain yang hampir mirip situs pemerintah, hingga formulir pendaftaran yang diam-diam mencuri data pribadi korban. 

Keberagaman cara penipu untuk mengeruk keuntungan di balik informasi palsu, tercatat pada tahun 2025 Polda Metro Jaya menerima total 4.271 laporan terkait kejahatan siber. Dari jumlah tersebut, kasus penipuan online (scam) menduduki peringkat pertama dengan 1.951 laporan polisi (LP). Dan tidak sedikit pula, diantaranya pada sektor keuangan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 323.841 laporan dari masyarakat yang menjadi korban penipuan di sektor keuangan, peretasan data pribadi Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) mencatat terdapat sebanyak 1,2 juta laporan (penipuan digital), dan berikut pula pada penipuan di sektor pendidikan yang masuk kedalam kategori scam melonjak pula di tahun 2025. Hal ini menjadi refleksi serius dan pembenahan berkala dalam memberantas kejahatan digital, kerugian mencapai Rp20.777.890.150 (lebih dari Rp20,7 miliar) tentu merugikan banyak pihak. Terutama korban atas bocornya hak privasi dan hak hidup aman. 

Baca Juga: AI Jadi Motor Baru Ekonomi, Meutia Hafid: Komdigi Fokus Percepat Adopsi di Berbagai Sektor


Tentu di tengah masifnya informasi hoax yang bertebaran di media sosial terutama mengatasnamakan pendidikan bukan sebuah kejahatan ringan. Terdapat cara sederhana dalam memproteksi diri sebelum mendaftar sebuah beasiswa pendidikan, pastikan teliti dan sikapi.


1. Kunci kritis adalah skeptis
Sikap pertama dan paling fundamental adalah skeptis. Bukan berarti harus curiga pada semua orang, tetapi perlu untuk berhati-hati. Penipu sangat mahir bermain dengan emosi. Mereka tahu calon penerima beasiswa biasanya memiliki harapan besar dan rasa ingin segera berhasil. Karena itu, mereka akan menawarkan skema yang kelihatannya sempurna: "Kamu terpilih! Beasiswa penuh ke luar negeri. Tanpa tes, tanpa wawancara."


2. Validasi sumber kebenaran
Setelah bersikap skeptis, langkah selanjutnya tidak boleh berhenti di situ. Jangan hanya berkata, "Ini curiga, ah scam." Lanjutkan dengan tindakan nyata: validasi sumber kebenaran merupakan langkah konfirmasi. Pendaftar harus membuktikan apakah informasi beasiswa yang diterima benar-benar berasal dari penyelenggara yang sah. Caranya sederhana: jangan pernah menggunakan tautan, nomor telepon, atau akun media sosial yang diberikan oleh pengirim pesan mencurigakan. Mengapa? Karena mereka bisa membuat tipuan yang cukup mirip.


3. Pilah dan Pilih 
Penerimaan informasi, pembaca atau dalam hal ini pendaftar akan dihadapkan pada banyak sekali tawaran. Ada yang benar, ada yang setengah benar, ada pula yang sepenuhnya palsu. Di sinilah Anda perlu masuk ke tahap Pilah dan Pilih. Apa maksudnya? Anda harus menjadi konsumen informasi yang cerdas. Tidak semua informasi beasiswa layak untuk diikuti, bahkan jika sumbernya terlihat resmi sekalipun.


4. Jauhi Penerimaan Berkedok Biaya Administratif
Ini adalah garis merah yang tidak boleh dilewati. Jika tiga poin sebelumnya adalah tindakan pencegahan, poin keempat ini adalah peringatan darurat yang dimana jika ada pihak yang meminta kesepakatan pembayaran dalam bentuk apapun sehubungan dengan beasiswa, segera tinggalkan. Modus ini sangat klasik, tetapi masih banyak korbannya setiap tahun. Caranya: penipu mengaku bahwa pendaftar telah LOLOS seleksi beasiswa. Lalu mereka bilang, "Selamat! Tapi sebelum dana beasiswa sebesar Rp50 juta cair, Anda harus membayar biaya administrasi/pencairan/verifikasi sebesar Rp250 ribu. "Mengapa ini pasti penipuan? Karena tidak mungkin sebuah lembaga yang memberikan pendanaan dalam jumlah besar, tetapi kemudian meminta pendaftar mengirim uang terlebih dahulu.


 Penipuan beasiswa bukanlah cerita fiktif. penipuan siber nyata terjadi setiap hari, memanfaatkan harapan dan semangat para pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Dengan menerapkan sikap skeptis yang sehat, membiasakan diri memvalidasi sumber informasi, disiplin dalam memilah dan memilih tawaran yang masuk akal, serta menjauhi segala bentuk permintaan biaya administratif. Ribuan mahasiswa dan pelajar setiap tahun berhasil mendapatkan pendanaan pendidikan melalui jalur yang resmi dan transparan. Asalkan tetap waspada, terus belajar, dan tidak pernah tergiur oleh janji manis yang tidak masuk akal. 


Ade Pramitha