BOGOR, CEKLISSATU.COM - Di tengah arus hedonisme yang melanda generasi muda, seorang pemuda inspiratif asal Jasinga, Radien, memilih jalan berbeda: membangun Kedai Literasi, ruang kecil yang menyatukan buku, diskusi, dan secangkir kopi sebagai fondasi perubahan sosial dan budaya.
Radien, yang percaya bahwa cita-cita sejati bukan hanya tentang dirinya sendiri, tetapi tentang keberanian menghadirkan perubahan di tengah masyarakat.
Ia melihat betapa lemahnya budaya literasi menjadi akar dari berbagai masalah sosial dan budaya.
Baca Juga: Pesta Literasi Indonesia 2025 Resmi Dibuka di Kebun Raya Bogor., Hadirkan Sejumlah Tokoh
Dari kegelisahan itulah, lahir sebuah tekad untuk menghadirkan tempat sederhana yang bisa menjadi rumah pengetahuan, sekaligus penopang ekonomi mandiri.
"Selain menopang ekonomi, kita ingin ada sesuatu yang lebih besar tercipta di sini," ucapnya kepada ceklissatu.com.
Di Kedai Literasi nanti, lanjut Radien, buku-buku akan diupayakan hadir menemani. Seiring dengan itu, ruang diskusi pun akan terus dibuka.
"Kedai Literasi ini bukan hanya untuk menikmati minuman hangat atau cemilan ringan, tetapi juga akan kita upayakan menjadi ruang dialektika yang sehat, di mana gagasan-gagasan bisa bertemu, saling diuji, dan menyalakan kesadaran," kata dia penuh harap.
Perjuangan Radien tidak ditopang bantuan organisasi besar atau dukungan birokrasi.
Kedai Literasi dimulai dari dedikasi, dari pribadi-pribadi mereka yang peduli.
Dengan keyakinan bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil.
Melalui Kedai Literasi, Radeien ingin membuktikan bahwa kedai sederhana pun bisa menjadi pintu menuju tumbuhnya ekonomi kerakyatan, sekaligus ruang subur bagi budaya membaca dan berpikir kritis.
Kedai Literasi menjadi cermin dari cita-cita seorang pemuda, bahwa secangkir kopi dapat menyatukan orang, selembar buku dapat membuka cakrawala, dan sebuah ruang kecil dapat melahirkan harapan besar untuk banyak jiwa.
Comment