Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa komposisi tanam kelompok ini cukup beragam. Sekitar 40 persen dari total lahan digunakan untuk cabai. Sementara sisanya 60 persen ditanami hortikultura lain seperti tomat, terong, dan sayuran daun.

Baca Juga: Kesaksian Warga Kalongliud Nanggung: Tiba-Tiba Tebing Penahan Tanah Longsor Saat Azan Subuh

Strategi ini dinilai mampu menjaga keberlanjutan produksi dan mengurangi risiko kegagalan panen tunggal (crop failure).

“Dari 2022 hingga 2024, program ini murni berbasis pemberdayaan, tanpa ketergantungan pada pihak luar. Ini bentuk nyata dari pembangunan desa yang berkelanjutan,” jelasnya.

Program ketahanan pangan Kalongliud juga dirancang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Jani mengatakan, keberlanjutan menjadi kunci utama agar desa tidak hanya produktif hari ini, tapi juga tahan banting di masa depan.

Baca Juga: Bendung Bongas di Kecamatan Nanggung Segera Direhabilitasi Tahun Ini, Pagu Anggaran Mencapai Rp830 Juta

“Tahun 2025, kami berencana mengintegrasikan kelompok tani dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Ini bagian dari roadmap menuju ekosistem ekonomi desa yang mandiri dan sehat,” tegasnya.